Rumah Sekunder di Indonesia Naik Tipis, Jakarta Selatan Mulai Dilirik Pembeli

Rumah Sekunder di Indonesia Naik Tipis, Jakarta Selatan Mulai Dilirik Pembeli

Harga rumah sekunder Indonesia hanya tumbuh 0,9% hingga Juli 2026, di bawah inflasi 2,9%. Simak tren pencarian, suplai, dan kota favorit pembeli.--Landbank.co.id

Jakarta, landbank.co.id - Harga rumah sekunder atau rumah bekas di Indonesia masih tumbuh di bawah laju inflasi nasional hingga Juli 2026.

Berdasarkan Flash Report Agustus 2026 by Rumah123, Resale Price Index (RPI) nasional tercatat tumbuh 0,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga Juli 2026. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,9%.

Head of Market Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan harga rumah sekunder secara riil mengalami pelemahan setelah memperhitungkan inflasi.

"Tren tersebut tercatat berlangsung selama 16 bulan berturut-turut sejak April 2025. Artinya, meskipun harga rumah sekunder secara nominal masih mengalami pertumbuhan, kenaikannya belum mampu mengimbangi laju inflasi," ujar Marisa dalam keterangan resminya yang diterima landbank.co.id Senin, 24 Agustus 2026.

Ia mengungkapkan bahwa selisih antara pertumbuhan harga rumah sekunder dan inflasi mencapai sekitar 2 poin persentase. Kondisi tersebut terjadi di tengah suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 4,75%, turun 150 basis poin sejak September 2024.

Sementara itu, estimasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) berada di kisaran 8,92%.

Di tengah pertumbuhan harga yang relatif terbatas, pasar rumah sekunder justru menghadapi penurunan pasokan.

Pada Juli 2026, volume suplai rumah sekunder turun 16,4% secara tahunan. Namun, secara bulanan, suplai masih mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,2%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga rumah sekunder belum mengalami kenaikan signifikan, pilihan properti yang tersedia bagi calon pembeli justru semakin terbatas.

Marisa mengatakan masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang memiliki daya tarik sebagai hunian maupun investasi.

"Yang kami lihat dari data pencarian adalah masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang punya daya tarik hunian maupun investasi. Tapi pada saat yang sama, supply rumah sekunder secara tahunan menurun," ujar Marisa.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat calon pembeli perlu mempertimbangkan bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan rumah di lokasi yang diincar.

"Artinya, masyarakat tidak hanya perlu mencari rumah yang sesuai kebutuhan, tetapi juga perlu memperhatikan pilihan yang masih tersedia di lokasi yang mereka incar," katanya.

Rumah Ukuran Kecil Mulai Jadi Incaran

Perbedaan pertumbuhan harga juga terlihat berdasarkan luas bangunan.