Rumah Sekunder di Indonesia Naik Tipis, Jakarta Selatan Mulai Dilirik Pembeli
Harga rumah sekunder Indonesia hanya tumbuh 0,9% hingga Juli 2026, di bawah inflasi 2,9%. Simak tren pencarian, suplai, dan kota favorit pembeli.--Landbank.co.id
Untuk rumah dengan luas bangunan hingga 60 meter persegi (m²), Jakarta Selatan mencatat pertumbuhan median harga tertinggi sebesar 29,4% secara tahunan. Median harga rumah pada segmen tersebut mencapai Rp1,1 miliar.
Pada segmen luas bangunan 61-90 m², pertumbuhan tertinggi tercatat di Yogyakarta sebesar 28,4%, dengan median harga Rp1,1 miliar.
Sementara itu, untuk rumah dengan luas bangunan 91-150 m², Makassar mencatat pertumbuhan sebesar 12,3%, dengan median harga mencapai Rp1,6 miliar.
Pertumbuhan pada sejumlah segmen rumah berukuran lebih kecil menunjukkan bahwa hunian dengan harga yang relatif terjangkau masih menjadi perhatian, terutama bagi pembeli rumah pertama.
Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat keterjangkauan rumah tidak dapat dilihat hanya berdasarkan tren nasional, tetapi perlu mempertimbangkan karakteristik setiap kota dan segmen hunian.
Kebijakan Perumahan Jadi Penopang
Perkembangan pasar rumah sekunder tersebut berlangsung di tengah berbagai kebijakan pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian.
Program 3 Juta Rumah masih menjadi salah satu agenda pemerintah, sementara pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2026 diarahkan untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk pekerja informal.
Firman mengatakan momentum Hari Kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa kepemilikan rumah merupakan bagian dari upaya masyarakat membangun kehidupan yang lebih mandiri.
"Momentum Kemerdekaan adalah pengingat bahwa punya tempat tinggal yang sesuai kebutuhan adalah bagian dari perjalanan membangun hidup yang lebih mandiri. Tapi kemandirian itu butuh informasi," ujar Firman.
Menurutnya, keputusan membeli rumah saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan harga turun, tetapi juga harus mempertimbangkan ketersediaan rumah dan kemampuan finansial calon pembeli.
"Keputusan beli rumah hari ini tidak bisa lagi hanya berangkat dari pertanyaan 'kapan harga akan turun?', melainkan 'di mana rumah yang sesuai masih tersedia, dan apakah harganya sesuai kemampuan saya?'," katanya.
Firman menambahkan, Rumah123 berupaya membantu masyarakat memahami kondisi pasar, membandingkan pilihan berdasarkan lokasi dan harga, serta menghitung kemampuan pembiayaan sebelum mengambil keputusan.
"Karena itu peran Rumah123 bukan hanya menyediakan pilihan properti, tapi membantu masyarakat memahami kondisi pasar, membandingkan pilihan berdasarkan lokasi dan harga, serta menghitung kemampuan pembiayaan sebelum mengambil keputusan, lewat simulasi KPR, cek kemampuan cicilan, sampai pengajuan dan pindah KPR di satu tempat," pungkasnya.
(*)