“Hal ini menandai titik balik setelah bertahun-tahun ekspansi secara cepat,” ujar Martin Samuel Hutapea, associate director Research & Consultancy Department Leads Property dalam risetnya Selasa, 6 Mei 2025.
Sub-pasar seperti Jenderal Sudirman dan SCBD mempertahankan dominasinya, secara bersama-sama menyumbang hampir 40 persen dari total pasokan tersebut.
Lalu, kawasan Rasuna Said dan Gatot Subroto porsinya masing-masing sebesar 16 persen dan 15 persen.
“Absennya pasokan baru dalam waktu yang cukup lama menunjukkan bahwa pasar sedang beralih dari fase ekspansi menuju periode keseimbangan (equilibrium), dengan implikasi terhadap stabilitas harga sewa,” kata Martin.
Baca juga: Ciputra Kantongi Rp412,31 Miliar dari Bisnis Perkantoran
Pasar perkantoran Jakarta CBD mempertahankan tren permintaan positif pada kuartal pertama 2025, meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berdampak meningkatkan kehati-hatian penyewa.
Fenomena flight-to-quality tetap menjadi pendorong utama, dimana penyewa lebih memilih aset strategis dan berkualitas tinggi sehingga menopang penyerapan bersih (net absorption) hingga mencapai 18.511 m² pada kuartal ini.
“Yang patut dicatat, aksesibilitas transportasi publik berperan secara krusial dalam distribusi permintaan. Sekitar 90% penyerapan bersih kuartal ini terkonsentrasi di sepanjang koridor MRT dan LRT, menguatkan keunggulan aset berbasis transit di lingkungan perkantoran sewa yang kompetitif,” jelas dia.
Fundamental permintaan yang kuat mendorong peningkatan tingkat hunian di kawasan CBD, dengan angka okupansi keseluruhan naik menjadi 72,6 persen, menandai pemulihan yang signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh ekspansi dari para penyewa serta terus tingginya minat terhadap gedung-gedung berkualitas tinggi yang terintegrasi dengan akses transportasi umum.
(*)





