Pasokan Rumah Bekas Menyusut, Pembeli Mulai Memburu Hunian di Pusat Kota
Ilustrasi rumah.--Landbank.co.id
Jakarta, landbank.co.id - Di tengah penurunan suplai rumah sekunder, masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang memiliki daya tarik sebagai hunian maupun investasi.
Berdasarkan Flash Report by Rumah123, volume suplai rumah sekunder pada Juli 2026 turun 16,4% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, secara bulanan, suplai masih mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,2%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang masyarakat untuk membeli rumah masih terbuka, tetapi jumlah pilihan properti yang tersedia justru semakin terbatas.
Head of Market Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang memiliki daya tarik sebagai hunian maupun investasi.
"Yang kami lihat dari data pencarian adalah masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang punya daya tarik hunian maupun investasi. Tapi pada saat yang sama, supply rumah sekunder secara tahunan menurun," ujar Marisa dalam paparan resminya, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurutnya, penurunan pasokan membuat calon pembeli tidak hanya perlu mempertimbangkan kesesuaian rumah dengan kebutuhan, tetapi juga memperhatikan ketersediaan properti di lokasi yang menjadi incaran.
"Artinya, masyarakat tidak hanya perlu mencari rumah yang sesuai kebutuhan, tetapi juga perlu memperhatikan pilihan yang masih tersedia di lokasi yang mereka incar," katanya.
Di sisi lain, dari sisi minat pencarian, Tangerang menjadi lokasi dengan proporsi pencarian rumah sekunder terbesar pada Juli 2026, yakni mencapai 14,7%.
Marisa mengatakan tingginya proporsi pencarian tersebut menunjukkan Tangerang masih menjadi salah satu kawasan utama yang diburu masyarakat untuk mencari hunian maupun properti investasi.
Posisi berikutnya ditempati Jakarta Selatan dengan proporsi 12,9% dan Jakarta Barat sebesar 10,2%.
Meski Tangerang masih menjadi wilayah dengan volume pencarian terbesar, arah pergerakan minat masyarakat mulai menunjukkan perubahan.
Secara tahunan, kenaikan proporsi popularitas tertinggi tercatat di Jakarta Selatan sebesar 1,2% dan Jakarta Pusat sebesar 1,0%. Selanjutnya, peningkatan minat juga terjadi di Tangerang Selatan, Jakarta Utara, dan Solo.
Sementara itu, Tangerang yang masih memimpin dari sisi volume pencarian justru mencatat penurunan proporsi popularitas sebesar 1,0% secara tahunan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa minat pencari rumah mulai bergerak kembali ke kawasan pusat kota. Lokasi yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi, fasilitas perkotaan, dan akses transportasi masih menjadi pertimbangan penting bagi calon pembeli.