Knight Frank: Pasokan Perkantoran CBD Jakarta Tembus 7 Juta m², Ruang Kosong Masih 1 Juta m²

Knight Frank: Pasokan Perkantoran CBD Jakarta Tembus 7 Juta m², Ruang Kosong Masih 1 Juta m²

Knight Frank Indonesia mengungkapkan bahwa hingga semester pertama 2026, total pasokan ruang perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta telah mencapai sekitar 7 juta meter persegi (m²).--landbank.co.id

Jakarta, landbank.co.id - Knight Frank Indonesia mengungkapkan bahwa hingga semester pertama 2026, total pasokan ruang perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta telah mencapai sekitar 7 juta meter persegi (m²).

Head of Research Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, mengatakan pasokan tersebut relatif tidak mengalami perubahan signifikan sejak 2024 karena minimnya tambahan gedung perkantoran baru di kawasan pusat bisnis Jakarta.

"Stok ada 7 juta meter persegi, sejak tahun 2024," ujar Syarifah dalam pemaparan riset properti, Kamis, 6 Agustus 2026.

Menurutnya, pasar perkantoran Jakarta masih berada dalam fase pemulihan. Tingginya tingkat ketersediaan ruang membuat pasar membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk kembali mencapai tingkat okupansi yang lebih sehat.

"Masih membutuhkan waktu yang signifikan untuk beberapa tahun ke depan," katanya.

Syarifah menjelaskan, hingga saat ini luas ruang perkantoran yang belum terisi di kawasan CBD Jakarta masih mencapai sekitar 1 juta meter persegi.

"Ruang kosong untuk office space ada di 1 juta meter persegi di CBD Jakarta," ungkapnya.

Besarnya ruang kosong tersebut menunjukkan bahwa pemilik gedung masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan tingkat hunian, meski aktivitas bisnis mulai mengalami peningkatan pascapandemi.

Di sisi lain, Syarifah menilai harga sewa perkantoran di Jakarta belum menunjukkan kenaikan yang berarti. Kondisi pasokan yang melimpah membuat pemilik gedung masih cenderung mempertahankan tarif sewa untuk menarik penyewa.

"Harga sewa perkantoran di Jakarta masih relatif stagnan saat ini," ujarnya.

Meski demikian, terdapat perbedaan tarif sewa di setiap koridor bisnis. Kawasan Sudirman-Thamrin masih menjadi lokasi dengan rata-rata harga sewa tertinggi dibandingkan koridor Gatot Subroto maupun Kuningan.

"Rerata harga sewa di koridor CBD Jakarta, Sudirman dan Thamrin ada di paling atas dibandingkan Gatot Subroto dan Kuningan," jelas Syarifah.

 

Knight Frank memperkirakan pemulihan pasar perkantoran akan berlangsung secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas bisnis, ekspansi perusahaan, serta membaiknya kondisi ekonomi nasional. Namun, tingginya pasokan ruang yang tersedia diperkirakan masih akan menjadi tantangan bagi pasar perkantoran Jakarta dalam beberapa tahun mendatang.

(*)