Anyam Sulam Payakumbuh Didorong Kembali Bangkit

Anyam Sulam Payakumbuh Didorong Kembali Bangkit

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong pemulihan ekonomi kreatif pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh-landbank.id-kementerian ekraf

Jakarta, landbank.co.id- Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong pemulihan Ekonomi Kreatif pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh. 

Upaya Kementerian Ekraf itu salah satunya adalah melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam dalam Rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekons). 

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membangkitkan kembali produktivitas dan daya saing para pelaku kriya lokal.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’. Karena pendampingan yang berkelanjutan akan memastikan ekosistem kriya daerah semakin tangguh menghadapi tantangan,” kata Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.

Wamen Ekraf mengatakan, sektor kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang potensial di Payakumbuh. 

BACA JUGA:NICE PIK 2 Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang CBDK

Dalam upaya memulihkan ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan semakin berdaya saing, baik di pasar nasional maupun internasional.

Penguatan potensi lokal ini selaras dengan tren pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kriya terus menunjukkan kinerja positif. 

Nilai ekspor subsektor ini meningkat dari US$3,47 miliar pada Januari-April 2025 menjadi US$3,82 miliar pada periode yang sama 2026. 

Pada 2025, subsektor kriya juga berkontribusi 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif, dengan pertumbuhan sebesar 2,36 persen.

BACA JUGA:BNI Tebar Promo KPR Griya di Danantara Housing Expo 2026, DP Mulai 1%

"Ingat satu hal, cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli,” kata Wamen Ekraf. 

Tanpa adanya cerita, tambah dia, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. 

“Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” tutur Wamen Ekraf.