Di tengah Bisnis Perkantoran yang Menantang, Leads Property: Ada Permintaan dari Dunia Pendidikan

Leads Property memroyeksikan pasokan kumulatif ruang perkantoran Jakarta pada 2026 stabil di angka 11,6 juta meter persegi/foto: leads property

Mengutip laporan keuangan PT Roda Vivatex Tbk, pendapatan emiten berkode saham RDTX itu terlihat sebesar Rp425,19 miliar per akhir September 2025.

Sebaliknya, pada rentang Januari-September 2024, pendapatan pemilik gedung perkantoran Menara PHE di kawasan Simatupang, Jakarta Selatan ini masih di level Rp396,90 miliar.

Bacaan Lainnya

Pasar perkantoran pada 2025 akan mengalami potensi pertumbuhan, dengan meningkatnya permintaan. Untuk itu perseroan memenuhi berbagai kebutuhan penyewa,” dilansir Annual Report Perseroan 2024.

Pertumbuhan pendapatan dari sewa kantor juga ditorehkan oleh PT Intiland Development Tbk (DILD) per akhir September 2025.

Baca juga: Perkantoran Jakarta, Leads Property: Harga Kantor Naik Tipis

Emiten properti berkode saham DILD itu mencatat pertumbuhan pendapatan usaha sewa perkantoran sekitar 4 persen pada sembilan bulan 2025 dibandingkan dengan periode sama 2024.

Pemilik gedung perkantoran Intiland Tower Jakarta itu membukukan pendapatan usaha Rp190,44 miliar per akhir September 2025, sedangkan pada periode sama 2024 senilai Rp182,83 miliar.

Sebaliknya, bisnis sewa kantor PT Ciputra Development Tbk (CTRA) justru turun sekitar 9 persen per akhir September 2025.

Pemilik perkantoran Ciputra World Jakarta itu mengantongi pendapatan sewa kantor Rp114,29 miliar per akhir September 2025.

Baca juga: Leads Property: Pasokan Perkantoran di Luar CBD Jakarta Stabil

Pada periode sama 2024, pendapatan sewa kantor emiten berkode saham CTRA itu masih bertengger di angka Rp124,65 miliar.

 

Proyeksi 2026

Sementara itu, Leads Property menyatakan bahwa indikator pasar 2026 memungkinkan pasokan kumulatif ruang perkantoran stabil di angka 11,6 juta m2.

“Proyeksi permintaan kumulatif meningkat berkisar 75 ribu m2 hingga 85 ribu m2, sedangkan harga sewa kantor di angka Rp299 ribu/m2/bulan,” urai Martin.

Dia menambahkan, tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD Jakarta diharapkan dapat mendorong pasar perkantoran menuju kondisi yang lebih sehat ke depannya. Hal ini terlihat dari kawasan SCBD yang kini mulai beralih menjadi landlord market.

Baca juga: Bisnis Perkantoran Roda Vivatex Melenggang, Tumbuh 10 Persen

Kawasan non-CBD yaitu Tangerang Selatan menjadi pilihan alternatif terutama bagi perusahaan fintech dan teknologi karena kedekatan dengan kampus dengan gaya low-rise building.

Kawasan di luar Jakarta seperti Bandung dan Yogyakarta kini menjadi pilihan bagi banyak perusahaan start-up, karena lokasinya yang dekat dengan pusat pendidikan atau kampus serta memiliki UMR yang lebih rendah dibandingkan Jakarta.

Kawasan non-CBD Tangerang Utara, terutama PIK dan PIK-2 menjadi magnet baru pusat komersial, yang menjadi daya tarik bagi perusahaan asal Tiongkok yang membutuhkan lokasi dekat bandara, fasilitas lengkap, dan tidak bergantung pada konektivitas ke CBD.

 

(*)

Pos terkait