Selebihnya, Summarecon mencatat pertumbuhan penjualan rumah, bahkan, pada 2024, penjualan rumah Summarecon melejit 99 persen.
PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) menjadi pengembang yang membukukan penjualan rumah terbesar keempat pada 2024, yakni sebesar Rp2,89 triliun.
Dalam rentang lima tahun terakhir, penjualan rumah DUTI sempat turun pada 2020 dan 2021, yakni masing-masing sekitar 22 persen dan sekitar 1 persen.
Setelah itu, pemilik proyek Grand Wisata Bekasi ini mencatat pertumbuhan penjualan rumah, yaitu pada 2022 melejit sekitar 66 persen, 2023 (27 persen), dan 2024 (28 persen).
Peraih penjualan rumah kelima terbesar pada 2024, yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan sebesar Rp2,40 triliun.
Baca juga: Pendapatan CTRA Tumbuh, Ini Kontributor Utamanya
Sepanjang 2020-2024, LPKR mencatat pertumbuhan penjualan rumah empat kali. Hanya pada 2024, LPKR harus puas membukukan penurunan penjualan rumah sekitar 4 persen dibandingkan tahun 2023.
Selebihnya, LPKR selalu mencatat pertumbuhan penjualan rumah, bahkan ketika Indonesia dilanda pandemi Covid-19 pada 2020.
Penjualan rumah LPKR tercatat tumbuh sekitar 4 persen pada 2020 dan melonjak 68 persen pada 2021. Lalu, pada 2022 dan 2023 sama-sama melejit sekitar 63 persen.
PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) selaku peraih penjualan rumah terbesar keenam pada 2024, terlihat lebih dinamis pertumbuhannya dalam rentang 2020-2024.
Pada 2024, penjualan rumah ASRI tercatat sekitar Rp1,96 triliun atau lebih rendah sekitar 19 persen bila disandingkan dengan setahun sebelumnya.
ASRI pernah mencatat penurunan penjualan rumah cukup tajam pada 2020 dibandingkan dengan 2019, yakni sekitar 59 persen.
Baca juga: Summarecon Kantongi Rp15,61 Triliun dari Penjualan Rumah, Lima Tahun
Kondisi sebaliknya dialami pemilik kota mandiri Alam Sutera, Tangerang, Banten ini pada 2021 yang melejit sekitar 2.462 persen.
Kemudian, harus puas turun 11 persen pada 2022 dan kembali melonjak 83 persen pada 2023.
Sementara itu, pengembang yang membukukan penjualan rumah terbesar ketujuh pada 2024, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), yakni Rp1,27 triliun, mencatat pertumbuhannya relatif stabil dalam lima tahun terakhir.
Dalam rentang tahun 2020-2024, APLN hanya satu kali mencatat penurunan penjualan rumah, yakni pada 2020, ketika pandemi Covid-19 mendera Indonesia.
Pada 2020, penjualan rumah APLN terlihat merosot sekitar 29 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Setelah itu, penjualan rumah APLN terus bertumbuh.
Tahun 2021, penjualan rumah pemilik proyek Bukit Podomoro Jakarta ini melonjak sekitar 356 persen. Lalu, 2022 tumbuh 25 persen, 2023 (17 persen), dan 2024 (8 persen).
(*)