Jakarta, landbank.co.id– Sepanjang Januari-Maret 2026, sebanyak 41.084 rumah subsidi menggerojok 357 kabupaten dan kota di Indonesia.
Rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu memanfaatkan kredit pemilikan rumah (KPR) berskema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) di bawah naungan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).
Mengutip data BP Tapera, nilai pembiayaan rumah subsidi berskema FLPP periode Januari-Maret 2026 tersebut setara dengan sebesar Rp5,11 triliun.
Nilai realisasi penyaluran KPR FLPP Januari-Maret 2026 lebih rendah sekitar 23 persen bila disandingkan dengan periode sama tahun 2025 yang senilai Rp6,67 triliun.
Baca juga: Ini Daftar Lengkap Bank Penyalur KPR FLPP Tahun 2026
Dari sisi unit, realisasi KPR FLPP sepanjang tiga bulan pertama 2026 lebih rendah sekitar 24 persen bila dibandingkan dengan periode sama setahun sebelumnya yang sebanyak 53.873 unit.
Wilayah terbanyak yang menyerap realisasi penyaluran KPR FLPP periode tiga bulan pertama 2026 ditempati oleh Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yakni sebanyak 2.519 unit senilai Rp337,97 miliar.
Realisasi tersebut lebih rendah sekitar 25 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025 yang mencapai sebanyak 3.346 unit, sedangkan dari sisi nilai juga turun sekitar 25 persen mengingat pada 2025 sebesar Rp448,84 miliar.
Mirip dengan Kabupaten Bekasi yang bertahan di peringkat pertama pada 2025 dan 2026, Kabupaten Bogor, Jawa Barat juga bertahan di peringkat kedua terbesar.
Baca juga: Sebanyak 7.312 Rumah Subsidi Membuka Tahun 2026
Penyerapan KPR FLPP di Kabupaten Bogor pada tiga bulan pertama 2026 juga turun bila dibandingkan dengan periode yang sama 2025, baik dari sisi unit maupun nilai.
Dari sisi unit, penyerapan KPR FLPP Kabupaten Bogor turun sekitar 18 persen, yakni dari sebanyak 2.073 unit menjadi 1.708 rumah subsidi, sedangkan dari sisi nilai turun sekitar 17 persen menjadi Rp228,84 miliar dari semula Rp277,48 miliar.





