Pengembang Lebih Hati-hati Meluncurkan Rumah Tapak Anyar
Para pengembang properti lebih berhati-hati dalam meluncurkan produk rumah tapak baru di area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)-landbank.id-
Jakarta, landbank.id- Para pengembang properti terlihat lebih berhati-hati dalam meluncurkan produk rumah tapak baru di area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) plus Karawang.
Hal itu tercermin dari data peluncuran rumah tapak anyar di Jabodetabek dan Karawang yang dikumpulkan Cushman & Wakefield pada rentang Januari-Juni 2026.
Data rumah tapak semester pertama tahun ini bila disandingkan dengan periode sama 2025 selisihnya cukup mencolok.
“Sebanyak 2.257 unit hunian baru diluncurkan di Jabodetabek pada semester pertama 2026, turun 64,9 persen secara tahunan, mencerminkan sikap pengembang yang lebih berhati-hati dan menunggu perkembangan kondisi ekonomi global,” urai Arief Rahardjo, director of Strategic Consulting of Cushman & Wakefield dikutip Rabu, 29 Juli 2026.
Mengutip data konsultan properti itu pada semester pertama 2025, jumlah hunian baru yang diluncurkan menyentuh angka 6.429 unit.
BACA JUGA:Sektor Perumahan Disuntik Rp29,34 Triliun
Raihan pada semester pertama 2025 naik sekitar 45 persen bila disandingkan dengan setahun sebelumnya.
Arief menjelaskan, untuk rentang enam bulan pertama 2026, Tangerang mendominasi peluncuran baru dengan kontribusi sebesar 73 persen dari total pasokan, menunjukkan konsentrasi aktivitas pengembangan yang terus berlanjut di koridor tersebut.
Data Cushman & Wakefiled memerlihatkan bahwa segmen menengah mendominasi pasokan baru pada semester pertama 2026, yakni sebanyak 36,5 persen, sedangkan segmen atas (25,7 persen) dan menengah atas (23,6 persen) mencapai hampir setengah total peluncuran, menunjukkan fokus pada produk kelas atas yang lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.
Mengutip riset Cushman & Wakefiled, pola ini berkaitan dengan perlambatan yang lebih luas dengan lebih sedikit peluncuran proyek dan pengembang tampaknya memprioritaskan produk kelas atas.
Untuk produk kelas menengah atas biasanya dibanderol di atas Rp2 miliar per unit, sedangkan segmen atas harganya di atas Rp3,5 miliar.
BACA JUGA:Tradisi Penjualan Rumah Kuartal Pertama Jabodebek Banten, Omzet Rp2 Triliun
“Tren ini menunjukkan preferensi pengembang terhadap segmen atas dan menengah atas dan segmen ini dianggap lebih tahan terhadap gejolak ekonomi,” dilansir riset tersebut.
Permintaan Rumah
Sementara itu, permintaan di seluruh Jakarta Raya (greater Jakarta) hanya tumbuh sebesar 0,55 persen pada semester pertama tahun 2026 dibandingkan dengan semester sebelumnya, laju yang jauh lebih lambat dari sebelumnya, dengan arah yang sama seperti penawaran.
Segmen menengah, yakni yang dibanderol berkisar Rp1-2 miliar, tetap menjadi kontributor terbesar terhadap permintaan, sebesar 27,8 persen, diikuti oleh menengah atas (26,6 persen) dan atas (25,4 persen).
“Pembagian ini sebagian besar tidak berubah dari semester sebelumnya, menunjukkan bahwa minat pada perumahan kelas atas tetap stabil meskipun pertumbuhan permintaan secara keseluruhan melambat,” urai riset Cushman & Wakefield.
Tren yang sama diamati pada tingkat penyerapan. Rata-rata penyerapan bulanan per perumahan turun 40,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 8,3 persen, sedangkan nilai penyerapan rata-rata per perumahan turun dengan tingkat yang lebih kecil yaitu 19 persen yoy menjadi Rp24 miliar.
BACA JUGA:Bocoran Harga Rumah di Jalur LRT Jabodebek
Selisih antara kedua angka ini menunjukkan peningkatan penjualan pada unit-unit dengan harga lebih tinggi, yang semakin menegaskan pergeseran pasar ke arah produk segmen Menengah Atas dan Atas.
Di sisi lain, Cushman & Wakefield menyatakan bahwa pasokan perumahan tapak diperkirakan tetap melambat hingga akhir tahun 2026, dengan pengembang kemungkinan akan tetap berhati-hati dalam peluncuran proyek baru.
Segmen menengah dan menengah atas diperkirakan terus menjadi penopang pasar, meskipun permintaan untuk produk kelas atas kemungkinan akan tetap ada mengingat ketahanan yang ditunjukkan selama paruh pertama tahun ini.
Dari sisi kebijakan, pemerintah telah memperpanjang subsidi PPN 100 persen lewat Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk properti residensial hingga Desember 2027, mencakup rumah tapak dengan harga hingga Rp 5 miliar dengan batas subsidi Rp2 miliar — memberikan jaminan kepada pengembang meskipun mereka tetap berhati-hati dengan peluncuran proyek baru.
Suku bunga diperkirakan menambah sikap hati-hati para developer. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 100 bps antara Mei dan Juni 2026 menjadi 5,75 persen, level tertinggi dalam lebih dari setahun, sebagai respons terhadap ketidakpastian global dan tekanan Rupiah, dapat menyebabkan kenaikan suku bunga hipotek.
BACA JUGA:Rumah Tapak Pinggiran Jakarta Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Ini Alasannya
Walau, dikutip dari riset tersebut sejauh ini suku bunga hipotek relatif stabil, berkisar 8-9 persen karena perubahan suku bunga biasanya akan ditinjau dan sepenuhnya diteruskan setiap 6-12 bulan.
(*)