BTC Sempat Sentuh US$62.000, Ini Proyeksi Harga Bitcoin Menurut FLOQ
Ilustrasi Bitcoin (BTC) dengan indikator.--Istockphoto
Jakarta, landbank.id - Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan setelah harga Bitcoin (BTC) turun hingga menyentuh level terendah di kisaran US$62.000 pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Mengutip data perdagangan Minggu, 2 Agustus 2026, harga Bitcoin mulai menunjukkan pemulihan terbatas dengan naik tipis ke kisaran US$63.400, meski masih berada di bawah level psikologis US$64.000.
Market Outlook FLOQ melaporkan, terdapat tiga faktor utama yang memicu pelemahan Bitcoin, yakni meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta melemahnya struktur teknikal BTC setelah level support US$64.000 ditembus.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan kondisi pasar saat ini menunjukkan investor kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
"Pasar sedang menghadapi kombinasi tekanan makroekonomi, geopolitik, dan teknikal secara bersamaan. Penembusan level US$64.000 menjadi penting karena menunjukkan bahwa sentimen pasar belum cukup kuat untuk mempertahankan momentum pemulihan Bitcoin," kata Yudho dalam keterangan resminya yang diterima landbank.id, Minggu (2/8/2026).
Selain tekanan teknikal, menurut Yudho, kebijakan moneter Amerika Serikat juga masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan aset kripto.
"Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% pada pertemuan 29 Juli. Keputusan tersebut merupakan penahanan suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut," ujarnya.
Meski demikian, Yudho menambahkan keputusan tersebut tidak serta-merta dipandang sebagai sinyal pelonggaran kebijakan moneter oleh pelaku pasar.
"Keputusan tersebut tidak serta-merta dibaca sebagai sinyal pelonggaran oleh pelaku pasar. Tiga pejabat regional The Fed justru memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin," katanya.
Lebih lanjut, Yudho menilai komposisi pemungutan suara tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih mempertahankan sikap hawkish dalam menghadapi tekanan inflasi.
Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72,3%, lebih tinggi dibandingkan kisaran 54–63% dalam dua pekan sebelumnya. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekanan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
Menurut Yudho, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar keputusan The Fed untuk menahan suku bunga.
"Kata 'menahan' tidak selalu berarti dovish. Dalam pertemuan kali ini, komposisi voting dan pernyataan The Fed justru memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga masih tinggi, ruang penguatan aset kripto kemungkinan tetap terbatas," jelasnya.
Konflik AS-Iran Picu Kenaikan Harga Minyak
Tekanan tambahan juga datang dari meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jeda serangan yang dimulai pada 27 Juli hanya berlangsung sekitar dua hari sebelum kembali terjadi eskalasi.
Pada 29 Juli, Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania. Amerika Serikat bersama Arab Saudi kemudian membalas dengan menyerang kelompok pro-Iran di Irak timur.
Konflik tersebut mendorong harga minyak dunia menguat. Harga minyak Brent naik sekitar 3,42% menjadi US$86,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 3,58% menjadi US$82,09 per barel.
Kenaikan harga energi dikhawatirkan kembali memicu tekanan inflasi global dan memperkuat alasan bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
"Dalam jangka pendek, harga minyak kini menjadi salah satu indikator eksternal yang perlu diperhatikan investor kripto. Apabila konflik terus mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, kekhawatiran inflasi dapat meningkat dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko," ujar Yudho.
Meski demikian, pembicaraan antara Iran dan Oman terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz masih menjadi salah satu jalur diplomatik yang diharapkan mampu meredakan tekanan harga minyak.
Arus Dana ETF Bitcoin Mulai Melemah
Dari sisi institusional, produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat sempat mencatat arus dana masuk selama tiga pekan berturut-turut. Hingga pekan yang berakhir sekitar 24 Juli, ETF Bitcoin membukukan net inflow sekitar US$33,8 juta.
Namun, tren positif tersebut kehilangan momentum setelah ETF Bitcoin mencatat arus keluar sekitar US$225,1 juta pada Kamis dan US$240 juta pada Jumat, sehingga memutus tren tujuh hari arus dana masuk berturut-turut.
Di sisi lain, ETF Ethereum justru mencatat arus masuk mingguan sekitar US$104 juta, atau hampir tiga kali lipat dibandingkan total arus masuk ETF Bitcoin. Hal ini mengindikasikan adanya rotasi modal ke Ethereum, meskipun belum dapat dipastikan menjadi tren jangka panjang.
"Arus dana ETF menunjukkan minat institusional belum menghilang, tetapi tingkat sensitivitasnya terhadap kebijakan suku bunga masih sangat tinggi. Investor besar terlihat lebih selektif dan cepat melakukan penyesuaian menjelang rilis data ekonomi penting," kata Yudho.
Bitcoin Berpotensi Bergerak di Kisaran US$62.800–US$65.700
Secara teknikal, level US$62.800 menjadi area support terdekat yang perlu dicermati setelah Bitcoin kehilangan level US$64.000. Sementara itu, area US$65.700 hingga US$66.500 menjadi zona resistensi yang harus ditembus agar peluang pemulihan semakin terbuka.
Menurut Yudho, dalam jangka pendek Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup lebar.
"Selama Bitcoin belum mampu kembali dan bertahan di atas US$65.700, pasar masih berisiko mengalami tekanan lanjutan. Di sisi lain, area US$62.800 menjadi level penting karena penembusan yang konsisten di bawah area tersebut dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam," ungkapnya.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda penting pada awal Agustus, termasuk rilis data ISM Manufacturing PMI, ADP Employment Report, ISM Services PMI, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pada 7 Agustus.
"Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan arah pasar hanya berdasarkan satu indikator. Kondisi saat ini membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih disiplin karena data tenaga kerja, harga minyak, dan perkembangan geopolitik dapat memicu perubahan sentimen secara cepat," tutup Yudho.
(*)