Jakarta, landbank.co.id– Manajemen PT Jababeka Tbk (KIJA) menyatakan bahwa pihaknya membungkus laba bersih Rp857,12 miliar pada 2025.
Raihan laba bersih emiten yang mengusung kode saham KIJA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu naik sekitar 11 persen bila disandingkan dengan tahun 2024 yang senilai Rp770,06 miliar.
“Faktor utama dari peningkatan ini adalah kinerja keseluruhan perusahaan yang lebih baik, kenaikan pendapatan bunga, dan penurunan beban lain-lain terutama pada berkurangnya rugi selisih kurs yang dari sebelumnya Rp205,7 miliar menjadi Rp120,9 miliar,” terang manajemen KIJA dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.
Perusahaan yang didirikan pada 1989 ini mencatat EBITDA tahun 2025 sebesar Rp1,74 triliun atau meningkat sebesar 7 persen dibandingkan dengan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp1,62 triliun.
Kinclongnya laba bersih KIJA ditopang oleh moncernya pendapatan pada 2025.
Mengutip keterangan tertulis Perseroan, Pilar Land Development & Property KIJA membukukan pendapatan sebesar Rp2,46 triliun pada 2025 lebih rendah dibandingkan Rp2,56 triliun tahun 2024.
Baca juga: Land Development dan Property Otot Pendapatan Jababeka
Kinerja tahun 2025 didukung oleh pertumbuhan penjualan tanah matang yang meningkat dari Rp2,05 triliun pada 2024 menjadi Rp2,10 triliun tahun 2025, mencerminkan permintaan yang tetap solid.
Pendapatan dari Pilar Infrastruktur Perseroan (utamanya listrik, air, pengelolaan limbah, pengelolaan estate, dan pelabuhan) meningkat sebesar 34 persen, yakni dari Rp1,91 triliun pada 2024 menjadi Rp2,57 triliun tahun 2025.
Subsegmen terbesar dalam Pilar Infrastruktur mencatatkan peningkatan pendapatan, yakni pembangkit listrik yang tumbuh 54 persen menjadi Rp1,81 triliun, terutama karena adanya peningkatan pembelian listrik dari pengguna industri di Cikarang dan Kendal.
Lalu, jasa dan pemeliharaan (air, limbah, dan estate) tumbuh 5 persen menjadi Rp521,1 miliar sebagai hasil dari kenaikan permintaan di Kendal, Jawa Tengah.
Baca juga: Tak Hanya Pendapatan, Laba Jababeka Pun Meningkat
Sebalinya, subsegmen dry port mengalami penurunan pendapatan sebesar 9 persen akibat berkurangnya volume kontainer yang ditangani.
Pendapatan berulang dari Pilar Infrastruktur menyumbang 50 persen dari total pendapatan pada 2025, meningkat dibandingkan dengan tahun 2024 alias melejit 41 persen.





