Gedung Premium Jadi Pendorong Pasar Perkantoran

Konsultan properti Colliers Indonesia menyatakan bahwa pasar perkantoran Jakarta menunjukkan momentum positif pada kuartal ketiga 2025/foto: landbank.co.id

Efisiensi ruang kerja dan penyesuaian kebutuhan ruang masih menjadi fokus utama sebagian besar penyewa. Namun, tren pengurangan luas ruang kantor mulai berkurang.

Beberapa sektor, seperti teknologi, energi, dan jasa keuangan, menunjukkan minat baru dalam mengamankan ruang untuk mendukung ekspansi bisnis mereka.

Bacaan Lainnya

“Dengan stabilnya pasar perkantoran Jakarta, investasi strategis dan penawaran yang berorientasi pada kebutuhan penyewa diperkirakan membentuk lanskap komersial yang lebih tangguh dan dinamis pada masa mendatang,” dilansir riset Colliers Indonesia.

Per kuartal ketiga 2025, masih mengutip riset itu, stok perkantoran kumulatif di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta tetap stabil di sekitar 7,4 juta meter persegi (m2), tanpa ada tambahan baru.

Baca juga: Minat Terhadap Gedung Perkantoran Berkualitas Tinggi Meninggi

Sebaliknya, perkantoran Menara Jakarta yang baru beroperasi besutan Agung Sedayu Real Estat Indonesia (ASRI) menambah pasar Jakarta Pusat, sehingga stok di luar CBD menjadi 3,9 juta m2.

 

Ukuran Ruang Kerja

Sementara itu, efisiensi dan penyesuaian ukuran ruang kerja tetap menjadi prioritas bagi sebagian besar penghuni. Namun demikian, tren perampingan semakin jarang terjadi, dengan sektor-sektor tertentu—terutama teknologi, energi, dan jasa keuangan—menunjukkan minat baru untuk mengamankan ruang kantor untuk mendukung ekspansi. Pergeseran ini telah mendukung peningkatan rata-rata hunian yang stabil selama tahun lalu.

Di CBD Jakarta, mengutip riset Colliers Indonesia, tingkat hunian mencapai kurang dari 75 persen pada kuartal ketiga 2025, naik sekitar 2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Permintaan diperkirakan menguat lebih lanjut menjelang akhir tahun, didukung oleh paket pemilik properti yang menarik untuk gedung premium dan kelas A. Hunian diperkirakan mencapai sekitar 76 persen pada 2026.

Baca juga: Okupansi Perkantoran di CBD Jakarta 75 Persen

Di luar CBD Jakarta, hunian turun menjadi kurang dari 70 persen pada kuartal ketiga 2025, turun 1 persen dari  kuartal kedua 2025, sebagian karena persaingan dengan penawaran CBD dan masuknya Menara Jakarta.

“Meskipun trennya menurun, penyewa yang sadar biaya terus tertarik ke lokasi non-CBD, terutama yang dekat dengan ritel, pusat gaya hidup, dan kawasan hunian,” dilansir riset Colliers Indonesia.

Riset itu menyebutkan, dengan beberapa penyelesaian yang diharapkan pada 2026, tingkat hunian di luar CBD Jakarta dapat mengalami koreksi lebih lanjut berkisar 1-2 persen.

Berdasarkan kelas bangunan, bangunan premium dan kelas A tetap menjadi kontributor utama penyerapan di CBD, dengan tingkat hunian masing-masing sebesar 80 persen dan 77 persen. Preferensi penyewa terhadap bangunan hijau bersertifikat diperkirakan lebih lanjut mendukung permintaan dalam kategori ini.

Baca juga: Pasokan Minim Bisa Dongkrak Okupansi Perkantoran

Di luar CBD Jakarta, tingkat hunian kelas A tercatat sebesar 69 persen, mencerminkan sedikit penurunan dari kuartal sebelumnya.

 

(*)

Pos terkait