Jakarta, landbank.co.id– Sebanyak 7.312 rumah subsidi membuka penyaluran kredit pemilikan rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) tahun 2026.
Rumah yang mendapat kucuran KPR FLPP tersebut dibangun oleh 2.435 pengembang properti.
Aliran dana untuk rumah subsidi itu tersebar di 2.897 perumahan yang ada di 293 kabupaten dan kota Indonesia.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), rumah subsidi itu mendapat aliran KPR FLPP senilai Rp912,38 miliar.
KPR FLPP itu mengalir lewat 18 bank penyalur yang mencakup bank milik negara, bank pemerintah daerah hingga bank swasta yang menjadi mitra BP Tapera.
Baca juga: Awal Maret 2026, Tiang Pancang Rusun Subsidi di Meikarta
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendominasi penyaluran KPR FLPP sepanjang Januari 2026 dengan membungkus 4.160 unit atau setara sekitar 57 persen dari total subsidi yang disalurkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Di posisi kedua, PT Bank Syariah Nasional (BSN) dengan mengoleksi 861 unit. Anak usaha BTN ini menyerap sekitar 12 persen penyaluran KPR FLPP Januari 2026.
Dari kalangan bank pembangunan daerah, penyalur terbanyak ditorehkan oleh BPD Sumsel Babel, yakni 103 unit atau setara sekitar 1,40 persen.
Untuk kelompok bank swasta, penyalur KPR FLPP terbesar pada Januari 2026 adalah PT Bank Nationalnobu Tbk atau Bank Nobu, yaitu sebanyak 50 unit (0,68 persen).
Baca juga: BTN Kuasai 70,23 Persen KPR FLPP 2025
Khusus Nobu, bank ini baru menyalurkan KPR FLPP sejak tahun 2025. Tahun lalu, emiten bank yang mengusung kode saham NOBU di Bursa Efek Indonesia itu menyalurkan pembiayaan 103 rumah subsidi.
Target 2026
Sementara itu, untuk tahun 2026, pemerintah telah menetapkan kuota FLPP sebanyak 350.000 rumah subsidi.





