Sanggraloka Ubud Bidik Okupansi 70 Persen

Sejak soft opening pada Oktober 2025, Sanggraloka Ubud mencatat performa awal yang kuat dengan okupansi rata-rata direntang 58-62 persen/foto: sanggraloka ubud

 “Kami percaya bahwa pariwisata tidak harus memilih antara pertumbuhan dan keberlanjutan,” ujar I Wayan Lanus, direktur dan partner Sanggraloka Ubud, didampingi Komang Kariyana, general manager Sanggraloka Ubud sekaligus CEO Manggala International Hospitality dikutip Jumat, 12 Desember 2025.

Dia menerangkan, Sanggraloka membuktikan bahwa bisnis yang dijalankan dengan menghormati alam dan budaya justru menciptakan loyalitas tamu, nilai ekonomi yang lebih kuat, dan hubungan jangka panjang dengan komunitas.

Bacaan Lainnya

“Tujuan kami bukan hanya membangun resor, tetapi ekosistem yang menyehatkan tanah, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan Bali tetap hidup,” papar I Wayan Lanus.

 

Sistem Berkelanjutan

Di balik pengalaman tamu yang menenangkan, Sanggraloka menjalankan sistem keberlanjutan operasional yang terukur.

Baca juga: Peta Bisnis Hotel Jakarta dan Bali 2025

Limbah dipilah dan dikelola agar sebagian besar dapat dikomposkan atau didaur ulang, sementara penggunaan air dan energi dioptimalkan melalui pengelolaan greywater, pemanenan air hujan, dan efisiensi peralatan.

Upaya ini selaras dengan kerangka  Global Sustainable Tourism Council GSTC) dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diterapkan melalui komite internal dan indikator terukur seperti pengurangan pemakaian air per guest-night, pengalihan sampah dari TPA minimal 70 persen, penurunan intensitas energi hingga 10 persen per tahun, serta pemantauan biodiversitas melalui indeks burung dan kupu-kupu di jalur Forest Path.

Lebih dari 70 persen tenaga kerja berasal dari Bresela dan Payangan, mendapatkan pelatihan hospitality berbasis budaya dan praktik ramah lingkungan.

Rantai pasok juga diprioritaskan dari komunitas sekitar meliputi petani, perajin, dan pemandu budaya dengan perputaran ekonomi lokal yang diproyeksikan mencapai berkisar Rp1,2 miliar hingga Rp1,6 miliar per tahun saat resor mencapai kapasitas penuh.

Dengan operasional yang efisien, diversifikasi pendapatan, dan keterlibatan ekonomi lokal yang terukur, Sanggraloka menjadi contoh bagaimana model hospitality dapat menciptakan nilai komersial sekaligus sosial.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya memenuhi ekspektasi pasar modern, tetapi juga memperkuat daya saing, loyalitas tamu, dan stabilitas bisnis jangka panjang.

Baca juga: Melirik Bali Sang Destinasi Wisata Wellness Kelas Dunia

“Di tengah transformasi industri pariwisata yang menuntut diferensiasi dan tanggung jawab, Sanggraloka Ubud hadir sebagai luxury resort pilihan terbaik di Bali yang berkembang tanpa melepaskan akarnya pada komunitas dan lingkungan yang mendukungnya,” kata I Wayan Lanus.

Sanggraloka Ubud adalah Luxury Organic Farm & Retreat Resort di Bresela, Ubud, Bali, tempat tamu bisa menemukan kombinasi sempurna antara kenyamanan modern dan keindahan alami Bali.

Resor ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas kelas dunia, antara lain dua kolam renang outdoor dengan panorama hutan tropis, restoran dengan hidangan segar farm-to-table, hingga wellness center yang menawarkan pijat dan perawatan khas Bali.

Lalu, ada juga kids playground, wedding chapel berkapasitas 150 orang, cooking class, serta amphitheater untuk pertunjukan budaya.

(*)

Pos terkait