CBRE: Pasar Properti Jakarta Tetap Tangguh di Tengah Disrupsi AI

CBRE: Pasar Properti Jakarta Tetap Tangguh di Tengah Disrupsi AI

CBREPasar Properti Jakarta Tetap Tangguh di Tengah Disrupsi AI, Sektor Industri Menguat--Landbank.co.id

Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Albert Dwiyanto menyampaikan, net take-up perkantoran Non-CBD mencapai sekitar 21.600 m² pada kuartal III, sedangkan tingkat hunian bertahan di 73,2%.

Permintaan terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan di sektor barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG), teknologi, kimia, dan energi.

BACA JUGA:Cara Mengajukan KPR Subsidi BP Tapera 2026, Cek Syarat di Sini

Kemudahan akses serta konektivitas dengan jaringan transportasi utama tetap menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam menentukan lokasi kantor. Karena itu, kawasan yang memiliki akses transportasi memadai terus menarik minat penyewa.

“Perusahaan kini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung dalam memilih lokasi kantor. Selain biaya sewa, workplace experience, efisiensi operasional, sustainability, dan kesejahteraan karyawan juga menjadi faktor yang semakin penting dalam pengambilan keputusan,” jelas Albert.

Ia menambahkan, gedung perkantoran yang terus meningkatkan kualitas fasilitas dan kenyamanan akan memiliki daya saing lebih baik dalam menarik sekaligus mempertahankan penyewa di tengah persaingan pasar.

Di antara sektor properti yang dipantau CBRE, industri dan logistik masih menunjukkan kinerja yang kuat.

Head of Capital Markets & Industrial Logistics CBRE Indonesia Ivana Susilo menyampaikan, penyerapan lahan industri mencapai sekitar 59 hektare sepanjang kuartal III. Capaian tersebut mendorong tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek menjadi 91,6%.

BACA JUGA:Parkland Podomoro Karawang Berpegang Pada Tiga Pilar Ini

Permintaan lahan industri masih terkonsentrasi di koridor yang telah berkembang, seperti Cikarang dan Karawang. Kedua kawasan tersebut didukung infrastruktur yang kuat serta ekosistem industri yang matang.

Menurut Ivana, kualitas utilitas dan infrastruktur semakin menjadi faktor pembeda antarkawasan industri. Keandalan pasokan listrik, air, dan jaringan telekomunikasi turut memengaruhi keputusan perusahaan dalam memilih lokasi.

Faktor tersebut semakin penting bagi operator pusat data atau data center dan industri berbasis teknologi. Kondisi ini juga mendorong pertumbuhan harga lahan di lokasi industri utama.

“Faktor pembeda yang semakin penting di antara kawasan industri adalah kualitas utilitas dan infrastruktur. Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan semakin memengaruhi keputusan occupiers, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi. Tren ini turut mendorong pertumbuhan harga lahan di lokasi industri utama,” ujar Ivana.

Sementara itu, tingkat hunian fasilitas logistik mencapai sekitar 97%. Kinerja tersebut ditopang permintaan berkelanjutan dari sektor e-commerce, manufaktur, penyedia jasa logistik pihak ketiga atau third-party logistics (3PL), serta operator rantai dingin atau cold chain.

Pasokan baru yang relatif terbatas turut menjaga fundamental pasar tetap sehat sekaligus mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor logistik Jabodetabek.