The People’s Choice 2026 Usung “The Blue Print of Trust”, Suara Konsumen Jadi Sorotan
Ajang penghargaan The People’s Choice 2026 kembali digelar untuk tahun ketiga dengan mengusung tema “The Blue Print of Trust”.--landbank.co.id
Jakarta, landbank.co.id - Ajang penghargaan The People’s Choice 2026 kembali digelar untuk tahun ketiga dengan mengusung tema “The Blue Print of Trust”.
Dalam ajang tahun ini, The People's Choice 2026 menghadirkan 54 kategori sebagai bentuk apresiasi sekaligus gambaran terhadap pilihan masyarakat di sektor properti.
The People’s Choice 2026 tidak hanya menyoroti popularitas sebuah merek atau produk, tetapi juga berupaya menangkap tingkat kepercayaan konsumen terhadap pelaku industri properti.
Country Manager 99 Group Indonesia, Maria Herawati Manik mengatakan, predikat top of mind dalam industri properti tidak semata-mata berkaitan dengan tingkat popularitas sebuah merek di tengah masyarakat.
“Top of mind bukan sekadar menjadi yang paling dikenal, tetapi juga bagaimana sebuah produk atau merek mampu mendapatkan kepercayaan dan menjadi pilihan masyarakat,” ujar Maria dalam perss conference The People’s Choice 2026 yang dihadiri landbank.co.id di Raffles Kuningan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
BACA JUGA:Di Kawasan Industri, Penjualan Lahan Masih Berjalan
Menurutnya, proses penilaian dalam The People’s Choice 2026 juga mempertimbangkan sejumlah aspek yang dapat menggambarkan preferensi serta tingkat kepercayaan konsumen.
Ia menambahkan, masukan dari konsumen menjadi bagian penting dalam proses penilaian karena dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan dan ekspektasi masyarakat terhadap produk maupun layanan properti.
Maria juga menyampaikan, dalam penyelenggaraan tahun ini, The People’s Choice menghadirkan 54 kategori yang mencakup berbagai aspek dalam ekosistem properti.
“Penyelenggaraan ini menjadi wadah untuk melihat pilihan masyarakat terhadap berbagai produk, layanan, maupun pelaku usaha yang berhubungan dengan sektor properti,” katanya.
Maria menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan melalui sejumlah metode untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pilihan konsumen.
BACA JUGA:Danantara Housing Expo 2026 Dukung Program Tiga Juta Rumah
“Ada beberapa metode yang nantinya kami gunakan untuk melihat bagaimana pilihan dan preferensi konsumen terhadap industri properti,” ujarnya.
Gen Z Makin Selektif Memilih Rumah
Selain penghargaan dan pemetaan preferensi konsumen, The People’s Choice 2026 juga melihat perubahan perilaku pembeli properti, khususnya dari kalangan Generasi Z (Gen Z).
Maria mengungkapkan bahwa Gen Z kini tidak lagi menjadikan lokasi sebagai satu-satunya pertimbangan ketika memilih rumah.
“Gen Z memilih rumah tidak hanya soal lokasinya saja, melainkan juga soal finansial. Selain itu, building material, kawasan ramah lingkungan seperti SPKLU,” ujarnya.
Pertimbangan finansial menjadi salah satu faktor penting karena calon pembeli dari generasi tersebut semakin memperhatikan kemampuan mereka dalam membayar hunian dalam jangka panjang.
Selain harga dan pembiayaan, aspek lingkungan dan fasilitas pendukung juga mulai menjadi perhatian. Kehadiran fasilitas seperti stasiun pengisian kendaraan listrik atau SPKLU menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan daya tarik sebuah kawasan.
Gen Z juga semakin kritis terhadap kualitas dan kredibilitas pengembang.
“Yang sering ditanyakan dari Gen Z juga seperti terkait developer, apakah rumah ini dibangun dengan baik dan bagaimana kualitasnya,” kata Maria.
Sementara itu, CEO Property Watch Ali Trahanda mengatakan The People’s Choice 2026 melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem properti, mulai dari perbankan, pengembang, hingga konsumen.
“Kita melibatkan ekosistem properti, mulai dari perbankan, pengembang atau developer, dan konsumen,” ujar Ali.
Ia menjelaskan bahwa terdapat perubahan dalam metode penilaian pada penyelenggaraan tahun ini.
Jika sebelumnya proses penilaian lebih banyak mengandalkan voting, kini metode tersebut dikombinasikan dengan pendekatan lain, termasuk Focus Group Discussion (FGD).
“Dari yang sebelumnya hanya voting, tetapi tahun ini tidak hanya voting, tapi juga kami gabungkan dengan membuat FGD,” katanya.
Menurut Ali, perubahan metode tersebut dilakukan untuk memperoleh penilaian yang lebih mendalam dan tidak hanya berdasarkan jumlah suara konsumen.
Libatkan Survei Bahan Bangunan
Selain FGD, Property Watch juga melakukan survei secara langsung terhadap sejumlah aspek yang berkaitan dengan produk properti, termasuk bahan bangunan.
“Survei bahan bangunan, langsung dari kami yang terjun langsung melihat bahan bangunan yang seperti apa,” ujar Ali.
Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan agar penilaian tidak hanya didasarkan pada persepsi, tetapi juga memiliki validasi berdasarkan kondisi di lapangan.
“Lalu suara konsumen, ini juga memerlukan validasi agar hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi dan kebutuhan konsumen,” katanya.
Ali menambahkan, masukan dan kritik dari berbagai pihak menjadi salah satu dasar bagi penyelenggara untuk melakukan transformasi pada The People’s Choice.
“Dari banyak masukan dan juga kritik, sehingga kita bertransformasi, baik dari logo dan cara voting,” ujar Ali.
Melalui perubahan tersebut, The People’s Choice 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai perubahan kebutuhan dan preferensi konsumen di tengah perkembangan industri properti.
Kehadiran Gen Z sebagai calon konsumen properti juga menjadi sinyal bagi pengembang untuk lebih memperhatikan aspek harga, kualitas bangunan, kredibilitas pengembang, fasilitas kawasan, serta konsep hunian yang berkelanjutan.
(*)