Prospek Emas Masih Cerah di Tengah Perlambatan Ekonomi AS

Harga emas dunia berpotensi melanjutkan kenaikan didorong inflasi AS di atas 3%, perlambatan ekonomi, dan ketidakpastian geopolitik. Simak analisis terbaru Dupoin Futures./Foto: Istockphoto.

Perlambatan Ekonomi AS Jadi Faktor Kunci

Dari sisi makroekonomi, perlambatan ekonomi Amerika Serikat menjadi katalis penting bagi penguatan emas. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV 2025 tercatat hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,4 persen sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini menimbulkan spekulasi bahwa kebijakan moneter Federal Reserve ke depan dapat berubah, di tengah dilema antara menekan inflasi dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

Situasi tersebut menciptakan ketidakpastian pasar yang pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.

Sinyal Teknikal Masih Bullish

Menurut Andy Nugraha, indikator teknikal turut memperkuat prospek kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Pola candlestick menunjukkan dominasi tekanan beli, sementara indikator Moving Average menandakan tren naik masih solid dan belum memperlihatkan tanda pembalikan arah. Selama harga mampu bertahan di atas area support penting, peluang kenaikan dinilai masih terbuka.

Dupoin Futures memproyeksikan apabila momentum bullish tetap terjaga, harga emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di sekitar 5.220 dolar AS per troy ounce.

Namun demikian, risiko koreksi tetap perlu diwaspadai, terutama akibat aksi ambil untung maupun perubahan sentimen pasar. Level support terdekat diperkirakan berada di kisaran 5.004 dolar AS yang berpotensi menjadi area penopang harga.

Prospek Jangka Pendek

Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek masih menunjukkan kecenderungan bullish, didukung inflasi tinggi, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

Emas tetap menjadi pilihan utama investor sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Meski demikian, pelaku pasar disarankan tetap memantau perkembangan data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan Federal Reserve yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga selanjutnya.

(*)

Pos terkait