Jakarta, landbank.co.id– Emiten properti PT Alam Sutera Tbk mencatat pertumbuhan penjualan rumah sebesar 83 persen pada 2023 dibandingkan dengan setahun sebelumnya.
Mengutip laporan keuangan PT Alam Sutera Tbk, tahun 2023, emiten berkode saham ASRI itu mengantongi pendapatan Rp2,42 triliun.
Sebaliknya, pada 2022, pendapatan PT Alam Sutera Tbk dari penjualan rumah tercatat sekitar Rp1,32 triliun.
Penjualan hunian pengembang kota mandiri (township) bernama Alam Sutera, Tangerang, Banten itu mencakup rumah tapak dan rumah toko (ruko) atau shophouses.
Dari sisi unit yang terjual, masih mengutip laporan keuangan, pada 2023, ASRI berhasil melego 1.081 unit, sedangkan setahun sebelumnya 604 unit.
Artinya, unit rumah yang terjual pada 2023 melonjak sekitar 79 persen bila disandingkan dengan setahun sebelumnya.
Saat ini, ASRI mengembangkan proyek rumah di Tangerang, Banten, yakni di township Alam Sutera dan township Suvarna Sutera.
Di township Alam Sutera setidaknya terdapat 39 klaster, antara lain Mentari, Orlanda, Victoria, dan Taman Sutera Narada.
Lalu, di township Suvarna Sutera setidaknya terdapat 29 klaster. Di proyek ini terdapat super cluster, yakni Suvarna Padi, Suvarna Jati, Suvarna Sari, Suvarna Padma, dan Suvarna Respati.
Untuk proyek ruko, di Suvarna Sutera mencakup Terrace 8 dan Terrace 9, sedangkan di township Alam Sutera di antaranya Victoria Lane, Woodlake, Weston Lane, dan Elevee Promenade.
ASRI tercatat menempati urutan kelima dalam jajaran 10 emiten properti dengan penjualan rumah terbesar pada 2023.
Dari sisi pertumbuhan penjualan, ASRI justru merupakan yang teratas dalam daftar 10 developer itu yakni 83 persen.
Di dalam daftar itu, PT Summarecon Agung Tbk menjadi developer kedua terbesar dengan pertumbuhan 76 persen, yakni dari Rp1,74 triliun menjadi Rp3,06 triliun.
Di bawah Summarecon, emiten properti yang mencatat pertumbuhan penjualan rumah terbesar adalah PT Lippo Karawaci Tbk.
Emiten ini membukukan penjualan rumah Rp2,62 triliun pada 2023 atau tumbuh 71 persen, hal itu mengingat setahun sebelumnya senilai Rp1,53 triliun.
Mengutip laporan keuangan Lippo Karawaci, penjualan LPKR itu mencakup rumah hunian dan rumah toko atau ruko.
(*)