Jakarta, landbank.co.id– Penjualan lahan industri di kawasan Jabodetabek mencapai 125,94 hektare (ha) sepanjang semester pertama 2025.
Mengutip data Colliers Indonesia, penjualan lahan industri di Jabodetabek dalam paruh pertama 2025 dimotori oleh Artha Industrial Hill (AIH) dan Modern Cikande.
Ferry Salanto, head of Research Colliers Indonesia mengatakan bahwa pasar lahan industri di wilayah Jabodetabek menunjukkan dinamika signifikan sepanjang semester pertama tahun 2025.
“Meskipun total penjualan masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat, terutama pada kuartal kedua yang mencatat lonjakan cukup besar,” kata Ferry dikutip Minggu, 24 Agustus 2025.
Kuartal kedua tahun 2025 mencatat peningkatan tajam dalam penjualan lahan industri, yakni mencapai 71,88 hea atau naik dari 54,06 ha pada kuartal sebelumnya sehingga menandakan momentum pasar mulai pulih.
Baca juga: Porsi Kawasan Industri Intiland Kian Menonjol
Kawasan industri utama seperti Artha Industrial Hill dan Modern Cikande tampil sebagai pusat aktivitas, didorong oleh tingginya minat sektor manufaktur dan energi terbarukan, termasuk arus investasi dari perusahaan asal China.
Sementara itu, Purwakarta dan Subang mulai menarik perhatian sebagai alternatif strategis berkat ketersediaan lahan luas serta pengembangan infrastruktur, terutama Pelabuhan Patimban. Stabilitas harga lahan mencerminkan pasar yang relatif seimbang, sekaligus menunjukkan sikap lebih hati-hati para pengembang dalam menjaga daya saing kawasan industri.
Mengutip data Colliers Indonesia, secara kumulatif untuk paruh pertama tahun 2025, AIH memimpin pasar dengan penjualan seluas 41,1 ha.
Lalu, Modern Cikande seluas 40,26 ha dan Greenland International Industrial Center (GIIC) dengan luas 17,7 ha—memperkuat posisi mereka sebagai tiga kawasan teratas di pasar lahan industri Jabodetabek.
Baca juga: Prospek Kawasan Industri Jabodetabek Meyakinkan
Gelombang investasi Tiongkok yang signifikan terus menopang pertumbuhan ini, sebagian besar didorong oleh strategi diversifikasi yang ditujukan untuk mengurangi paparan tarif yang lebih tinggi di Amerika Serikat.
Meningkatnya minat terhadap Subang, khususnya kawasan Smartpolitan, menggambarkan tren yang lebih luas dari investor baru yang mencari peluang di luar pusat tradisional.





