Nilai ESG Pengembang di Tengah Emiten Bursa Efek Indonesia
PT Pakuwon Jati Tbk, sang pemilik Mall Ambassador, Jakarta posisinya berubah dari 22 ke level 23, sedangkan nilai tetap, yaitu 22,54.
Sementara itu, dari 85 emiten yang masuk daftar nilai ESG di BEI, posisi pertama ditempati oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dengan nilai ESG 7,11.
Hal serupa dicatatkan oleh anak usaha Pertamina itu pada April 2025, dengan jumlah nilai yang sama.
Urutan ke-85 ditempati oleh PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dengan nilai ESG 54,02.
Nilai PT Adaro Minerals Indonesia Tbk berubah bila dibandingkan dengan April 2025 yang masih di angka 53,1.
Masih mengutip laman BEI, dalam penilaian skor ESG, emiten dikelompokkan pada salah satu dari lima kategori yang mencakup negligible, yakni dianggap memiliki risiko ESG yang dapat diabaikan dengan rentang skor 0-10.
Lalu, low, dianggap memiliki risiko ESG yang rendah (skor 10-20).
Kemudian, medium, dianggap memiliki risiko ESG yang sedang (skor 20-30). Lalu, high, yaitu dianggap memiliki risiko ESG yang tinggi (30-40).
Baca juga: Rekam Jejak ESG SCG di Indonesia
Selain itu, severe, yakni dianggap memiliki risiko ESG yang berat (skor di atas 40).
Program BSDE
Sementara itu, manajemen BSDE mengaku bahwa pihaknya menyadari arti penting mengurangi dampak lingkungan dan mengatasi perubahan iklim.
Sejak tahun 2017, BSDE telah mengintegrasikan visi keberlanjutan sebagai komponen utama dari strategi bisnis. Visi ini, yang menjadi dasar operasi BSDE, disusun berdasarkan empat pilar utama dan area fokus yang sesuai.
Terkait lingkungan diterjemahkan dalam pilar kedua, yakni “Perubahan Iklim dan Lingkungan”.