Dia menambahkan, bagi pihaknya, dengan diberitahukan kebijakan PPN DTP lebih awal itu baik, sehingga pihaknya dapat melakukan perencanaan lebih awal dikarenakan kebijakan PPN DTP membutuhkan serah terima yang on time.
“Apabila kebijakan PPN DTP diberitahukan agak mepet kami tidak mempunyai waktu yang panjang untuk merencanakan pembangunan agar serah terima dapat on time,” tutur Olivia Surodjo.
Menurut dia, pemberitahuan lebih awal terkait adanya kebijakan PPN DTP memberikan kepastian bukan hanya kepada calon pembeli tetapi juga kepada kami sebagai developer sehingga pihaknya dapat melakukan planning lebih awal dan mempersiapkan langkah-langkah apa saja yang kami harus lakukan untuk melakukan konstruksi sehingga kami bisa serah terimakan tepat waktu untuk memanfaatkan PPN DTP.
“Menurut kami kebijakan PPN DTP merupakan kebijakan yang baik dan secara tidak langsung merupakan potongan diskon kepada end-user, yang mana end-user yang selama ini harus membayar PPN 11 persen,” ujar dia.
Baca juga: Residensial Masih Jadi Andalan Metland
Jadi, tegasnya, menurut Metland, kebijakan tersebut memang merupakan potongan langsung dan sangat menarik untuk pembeli, terutama pembeli rumah pertama yang belum memiliki rumah karena sebetulnya target yang paling baik adalah untuk membeli rumah pertama walaupun memang investor masih bisa untuk menikmati ini.
“Jika ditanya apakah kebijakan tersebut merupakan katalis berkelanjutan, menurut kami hal tersebut tergantung berapa lama berlakunya kebijakan tersebut. Dengan panjangnya masa berlaku kebijakan PPN DTP sampai dengan akhir tahun 2026, hal tersebut merupakan hal yang baik sehingga kami bisa memplanning lebih awal, apakah nanti akan diperpanjang lagi, baru kami dapat memberikan komen apakah ini katalis yang berkelanjutan atau tidak,” urai Olivia Surodjo.
Sementara itu, per akhir Desember 2025, jumlah aset MTLA tercatat sebesar Rp7,98 triliun, lebih besar bila disandingkan dengan setahun sebelumnya yang senilai Rp7,44 triliun.
Baca juga: 2025, Metland Maksimalkan PPN DTP untuk Penjualan Residensial
Begitu juga dengan liabilitas, yakni meningkat dari semula Rp1,85 triliun menjadi sebesar Rp1,98 triliun pada 2025.
Hal serupa terjadi di lini ekuitas. Per akhir Desember 2025, ekuitas MTLA sebesar Rp6,00 triliun, sedangkan setahun sebelumnya senilai Rp5,59 triliun.
Para pemegang saham Metland per akhir Desember 2025 mencakup PT Metropolitan Persada Internasional sebesar 37,52 persen dan PT Ciputra Nusantara 15,00 persen.
Baca juga: Metland Jaga Pertumbuhan Laba Bersih
Lalu, PT Yulie Sekuritas Tbk 7,24 persen, Magnus Jaya 5,30 persen, Iwan Putra Brasali (komisaris) 2,04 persen, Nanda Widya (komisaris) 1,06 persen, Anhar Sudrajat (presiden direktur) 0,08 persen, Olivia Surodjo (direktur) 0,04 persen, Wahyu Sulistio (direktur) 0,00 persen, Santoso (direktur) 0,00 persen, dan masyarakat 31,72 persen.
(*)





