Jakarta, landbank.co.id– Pendapatan PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) tercatat meningkat sekitar 15 persen pada rentang Januari-Juni 2025 dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Mengutip laporan keuangan PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk, emiten berkode saham JSPT ini membukukan pendapatan Rp1,22 trilun pada paruh pertama 2025.
Sebaliknya, pada semester pertama 2024, pendapatan PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk masih di posisi Rp1,06 triliun.
Pemasukan utama JSPT pada paruh pertama 2025 ditopang oleh bisnis hotel, yakni sebesar Rp889,04 miliar yang menyumbang sekitar 79 persen terhadap total pendapatan Januari-Juni 2025.
Pendapatan dari bisnis hotel pada semester pertama 2025 mencakup penjualan kamar hotel sebesar Rp596,41 miliar.
Lalu, penjualan makanan dan minuman senilai Rp257,57 miliar serta pendapatan dari fasilitas penunjang hotel lainnya yang sekitar Rp35,05 miliar.
Baca juga: Okupansi Hotel JSPT Diproyeksi Sentuh 90 Persen
Penyumbang kedua terbesar terhadap pendapatan JSPT sepanjang semester pertama 2025 datang dari penjualan real estat, yakni sebesar Rp102,30 miliar.
Bisnis real estat berkontribusi sekitar 9 persen terhadap total pendapatan Jakarta Setiabudi Internasional per akhir Juni 2025.
Melejitnya pendapatan memengaruhi torehan laba bersih JSPT pada paruh pertama 2025 yang mencatat lonjakan sekitar 490 persen disandingkan dengan periode yang sama 2024.
Per akhir Juni 2025, laba bersih JSPT tercatat sebesar Rp124,17 miliar, sedangkan pada periode sama 2024 masih sekitar Rp20,91 miliar.
Baca juga: Jakarta Setiabudi Internasional Tebar Dividen, Ini Jadwalnya
Sementara itu, jumlah aset JSPT tercatat sebesar Rp6,40 triliun per akhir Juni 2025, sedangkan pada akhir Desember 2024 senilai Rp6,45 triliun.
Liabilitas JSPT turun menjadi Rp3,42 triliun pada paruh pertama 2025 dibandingkan Rp3,53 triliun pada akhir 2024.
Hal serupa terjadi di lini ekuitas. Bila akhir 2024 sebesar Rp2,92 triliun, pada semester pertama 2025 menjadi Rp2,97 triliun.
Bisnis Hotel
Sepanjang semester pertama 2025, bisnis hotel JSPT mendulang pendapatan Rp889,04 miliar sekaligus penyumbang utama pendapatan Perseroan, yakni sekitar 79 persen.
Bila dibandingkan dengan raihan paruh pertama 2024 yang sekitar Rp814,95 miliar, torehan per akhir Juni 2025 naik sekitar 9 persen.
Pada semester pertama 2024, kontribusi bisnis hotel menyumbang sekitar 76 persen terhadap total pendapatan JSPT.
Baca juga: Jakarta Setiabudi Internasional Gandakan Penjualan Real Estat
Untuk bisnis hotel, mengutip data Perseroan, JSPT memiliki 11 unit properti yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Ke-11 hotel yang dimiliki Jakarta Setiabudi Internasional itu memiliki kapasitas 2.676 kamar.
Mengutip data Perseroan, hotel milik JSPT itu mencakup Hyatt Regency Bali (363 kamar), Grand Hyatt Bali (636 kamar), Andaz Bali (149 kamar), dan Mercure Resort Sanur (189 kamar).
Lalu, Pop Hotel Malioboro Yogyakarta (103 kamar), Hyatt Regency Yogyakarta (269 kamar), Mercure Convention Center (438 kamar), dan Ibis Budget Jakarta Cikini (150 kamar).
Selain itu, Ibis Budget Jakarta Menteng (135 kamar), Pop Hotel Kemang Jakarta (110 kamar), dan Pop Hotel Pemuda Semarang (134 kamar).
Selain bisnis hotel, JSPT juga memiliki sejumlah proyek real estat. Pada 2024, proyek real estat JSPT mencakup Puri Botanical, Jakarta yang berdiri di atas lahan seluas 135 hektare (ha).
Baca juga: Real Estat Jakarta Setiabudi Internasional Berkibar
Proyek residensial yang mengusung konsep living inspired by nature di Jakarta Barat ini selain diisi rumah tapak dua lantai, kelak juga dilengkapi lifestyle retail.
Fasilitas lifestyle retail di atas lahan seluas 2,5 ha itu mengusung konsep sports and entertainment yang dinilai akan menjadi destinasi utama bagi gaya hidup modern dan aktif.
JSPT juga punya Hyarta Ecovillage di Yogyakarta yang mencakup 120 rumah dan 9 ruko di atas lahan seluas 5 hektare.
Pemegang saham Jakarta Setiabudi Internasional per akhir Juni 2025 terdiri atas PT Jan Darmadi Investindo (JDI) sebesar 51,00 persen, dan Stiber Investments S.a.r.l 16,19 persen.
Selain itu, Suzanna Tanojo 14,37 persen, JPMCB NA RE-JPMCB Singapore 9,21 persen, Anton Goenawan 0,00 persen, Bram Van Hoof 0,00 persen, dan masyarakat 9,23 persen.
(*)