Rumah Tradisional Sade, Ruang Mencari Nafkah
Rumah tradisional di Sade bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga ruang untuk mencari nafkah serta bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Sasak-landbank.id-kemenpar
Pertama, penyediaan dan distribusi stock makanan untuk para korban terdampak.
Kedua, pembuatan Dapur Umum dan bantuan logistik, dimana Kementerian Pariwisata melalui Politeknik Pariwisata Lombok, bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI/POLRI, dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Ketiga, Program pemberdayaan bagi masyarakat dan pelaku pariwisata harus terus dilanjutkan dan diperkuat. Program pemberdayaan seperti: Trauma Healing bagi korban terdampak khususnya anak kecil, Memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) secara berkala kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan warga desa terkait prosedur Standard Operating Procedure (SOP) tanggap darurat dan evakuasi wisatawan.
Selain itu, perlunya penguatan pendampingan pembangunan usaha bagi masyarakat adat Sade dengan dukungan lintas sektor, seperti modal bekerja para pelaku usaha pariwisata, fasilitas pendukung alat menenun, dan realokasi tempat sementara untuk menghidupkan aktivitas ekonomi bagi masyarakat adat Sade secara bertahap.
Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata juga memberikan bantuan sejumlah alat tenun yang dibutuhkan kepada masyarakat Desa Adat Sade. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan perannya sebagai penjaga tradisi dan kearifan lokal Sasak.
BACA JUGA:Sepenggal Doa dari Cipete untuk NTT
Keempat, rencana pembangunan museum sementara dan masjid. Museum diharapkan menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal secara langsung dan autentik sejarah, nilai budaya Desa Adat Sade, serta kehidupan masyarakat Suku Sasak. Sementara itu, masjid akan menjadi sarana ibadah bagi masyarakat adat sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan Muslim yang berkunjung. Pembangunan ditargetkan dapat diselesaikan menjelang peak season, khususnya momentum penyelenggaraan MotoGP di Mandalika.
Pemulihan Desa Adat Sade juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat. Keberadaan masyarakat beserta tradisi, pengetahuan lokal, dan autentisitas kehidupan desa merupakan kekuatan utama yang menjadikan Sade memiliki nilai penting dalam pariwisata Lombok.
Oleh karena itu, Menpar menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemda, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh ekosistem pariwisata agar proses pemulihan tidak sekadar mengembalikan kondisi Sade seperti sebelum kebakaran, tetapi juga meningkatkan ketangguhan masyarakat dan keberlanjutan desa pada masa mendatang.
BACA JUGA:Saraswanti Indoland Perkuat Otot Pendapatan
“Mudah-mudahan melalui upaya, kolaborasi, dan gotong royong seluruh pihak, baik ekosistem pariwisata, pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun swasta, kita bisa bersama-sama membangun kembali desa ini. Tentunya masyarakat desa sendiri harus dilibatkan dalam seluruh prosesnya,” kata Menpar.
(*)