Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia menunjukkan kecenderungan melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan, didorong kombinasi sentimen fundamental global serta sinyal teknikal yang masih mendukung tren kenaikan.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, mengatakan lonjakan harga emas dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sekaligus meningkatnya tekanan inflasi.
“Penguatan emas saat ini didorong kombinasi faktor fundamental, terutama inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat yang meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven,” ujar Andy dalam keterangan resminya yang diterima landbank.co.id Selasa, 24 Februari 2026.
Data terbaru Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE) — indikator inflasi utama acuan Federal Reserve — menunjukkan inflasi telah melampaui level 3 persen. Kondisi ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah tekanan harga yang meningkat.
Pada akhir pekan lalu, harga emas tercatat naik lebih dari 1 persen dan diperdagangkan di kisaran 5.065 dolar AS per troy ounce setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah harian di area 4.981 dolar AS, menandakan rebound yang cukup kuat.
Memasuki sesi perdagangan Asia, harga emas masih mempertahankan momentum positif dengan bergerak mendekati level 5.095 dolar AS per troy ounce.
Andy menyampaikan, penguatan harga emas turut dipicu meningkatnya ketidakpastian global setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memberlakukan tarif impor baru yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik perdagangan internasional.
“Kebijakan tarif impor tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas perdagangan global sehingga investor kembali mencari aset aman seperti emas,” katanya.
Kebijakan tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas, yang secara historis cenderung diminati saat kondisi ekonomi dan geopolitik tidak stabil.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga turut memperkuat permintaan emas, meski peluang negosiasi di antara kedua negara sedikit menahan laju kenaikan agar tidak berlangsung terlalu tajam.
Lebih lanjut, Andy memproyeksikan perlambatan ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menopang penguatan harga emas dari sisi makroekonomi.
Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV 2025 tercatat hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 4.4 persen dan berada di bawah ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut memunculkan spekulasi perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve yang kini menghadapi dilema antara menekan inflasi dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Ketidakpastian kebijakan ini pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan harga emas.
Sinyal Teknikal Masih Bullish
Menurut Andy Nugraha, indikator teknikal juga menunjukkan sinyal yang sejalan dengan potensi penguatan lanjutan.
“Pola candlestick memperlihatkan dominasi tekanan beli, sementara indikator Moving Average menandakan tren naik masih solid dan belum menunjukkan tanda pembalikan arah. Selama harga bertahan di atas area support penting, peluang kenaikan masih terbuka,” jelasnya.
Ia menambahkan, harga emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di sekitar 5.220 dolar AS per troy ounce apabila momentum bullish tetap terjaga.
Namun demikian, risiko koreksi tetap perlu diwaspadai, terutama akibat aksi ambil untung maupun perubahan sentimen pasar. Level support terdekat diperkirakan berada di kisaran 5.004 dolar AS yang berpotensi menjadi area penopang harga.





