Bisnis Mal di Jakarta 2026, Begini Kata Konsultan

Pada 2026, diprediksi ada tambahan ruang pusat perbelanjaan sehingga ikut memengaruhi dinamika bisnis mal di Jakarta/foto: landbank.co.id

Sementara itu, dalam pandangan Martin Samuel Hutapea, associate director Research & Consultancy Department Leads Property, pengembangan konsep retail compound akan semakin diminati, karena biaya konstruksi yang lebih terjangkau.

“Konsep retail compound juga lebih efisien dalam hal operasional dan pemeliharaan sehingga lebih menguntungkan bagi pengembang,” kata Martin, di Jakarta, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Dia menerangkan, pusat perbelanjaan modern kelas menengah-atas dan atas maupun retail compound dengan konsep menarik dan yang memberikan “experience” lebih bagi pengunjung akan lebih diminati dibandingkan dengan mall konvensional di kelas menengah dan menengah-bawah.

 

Okupansi Mal

Di sisi lain, kata Martin, jaringan ritel asal Tiongkok semakin banyak berdatangan ke pasar ritel Indonesia, di berbagai kategori termasuk F&B dan general merchandising, serta menempati rumah toko (ruko) maupun mal.

Baca juga: Indonesia Prima Property Terus Segarkan Pusat Perbelanjaan

“Namun, brand – brand asal Tiongkok itu cenderung melakukan test market, sehingga belum tentu akan bertahan lama (sustainable),” tutur dia.

Radar Colliers Indonesia juga menangkap hal nyaris senada. Peritel Asia, terutama dari Tiongkok, tetap bersemangat untuk memasuki pasar ritel Jakarta, tertarik oleh reputasi kota tersebut sebagai penentu tren gaya hidup di kalangan konsumen muda.

“Pemilik properti diharapkan untuk terus mengkurasi komposisi penyewa yang seimbang dan strategi zonasi untuk memastikan bahwa pendatang baru melengkapi peritel yang sudah ada, menghindari kelebihan pasokan sekaligus memperkaya lingkungan belanja,” dilansir riset Colliers.

Sementara itu, tingkat hunian mal diperkirakan membaik secara bertahap, seiring mal beradaptasi dengan perubahan kebiasaan konsumen.

Dalam catatan Colliers Indonesia, hingga kuartal ketiga 2025, pemilik mal terus menyesuaikan ruang mereka dengan permintaan konsumen yang terus berkembang, dengan fokus yang kuat pada mempertahankan dan meningkatkan tingkat hunian.

Tingkat hunian keseluruhan mencapai sekitar 74 persen di Jakarta dan 69 persen di Jabodetabek.

Mal segmen premium dan menengah-atas di Jakarta dan Jabodetabek terus berkinerja kuat, mempertahankan hunian mendekati 90 persen.

Baca juga: Okupansi Pusat Perbelanjaan di Jakarta Relatif Stagnan

Mal-mal ini diuntungkan oleh basis penyewa yang mapan, termasuk merek internasional dan mewah, yang secara konsisten menarik pembeli kelas atas.

Permintaan berkelanjutan akan pengalaman ritel yang unggul telah membantu segmen ini mempertahankan ketahanan.

“Sebaliknya, tingkat hunian di mal kelas menengah ke bawah tetap rendah, rata-rata sekitar 60 persen,” dikutip dari riset Colliers Indonesia.

Beberapa department store di Jakarta telah mengurangi skala usaha, mengalokasikan kembali ruang untuk merek-merek baru guna menyegarkan bauran penyewa mereka.

Strategi ini mengakomodasi peritel yang masuk daftar tunggu, meningkatkan variasi, dan mendukung peningkatan jumlah pengunjung.

Bagi pemilik properti, membagi ruang utama yang besar menjadi beberapa penyewa gaya hidup dan khusus telah terbukti menjadi strategi adaptasi yang efektif—mendiversifikasi penawaran, meningkatkan pendapatan sewa, dan memperkuat daya saing.

Baca juga: Belajar dari Bisnis Mal Summarecon

Contohnya antara lain Matahari Department Store di Blok M Plaza yang mengurangi luas gerainya untuk mengakomodasi SUKO dan ZES.

Lalu, SEIBU di Pondok Indah Mall yang merelokasi ruangnya ke Sephora dan Lotte Department Store di Lotte Mall Jakarta yang mengurangi ukuran gerainya untuk memperkenalkan merek-merek seperti Decathlon dan Dekoruma.

(*)

Pos terkait