Sementara itu, omzet rumah subsidi, mencakup skema konvensional dan syariah sepanjang Januari-September 2026 ditaksir menyentuh tak kurang dari Rp27,39 triliun.
Perputaran uang dari penjualan rumah subsidi itu lebih rendah sekitar 13 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025 yang menyentuh level Rp31,28 triliun.
BACA JUGA:KPR Subsidi Bank Syariah Nasional Digemari Pekerja Swasta
Mengutip data BP Tapera, omzet rumah subsidi itu memakai asumsi harga rata-rata Rp166 juta per unit.
Khusus untuk rumah subsidi syariah, sepanjang Januari-September 2026 mengantongi omzet senilai Rp7,89 triliun, lebih rendah sekitar 1 persen dibandingkan dengan periode sama 2025 yang menyentuh Rp7,95 triliun.
Realisasi KPR FLPP
Di sisi lain, mengutip data BP Tapera, untuk periode Januari-September 2026, pangsa pasar rumah subsidi syariah menyentuh 28,80 persen dari total realisasis penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) berskema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) alias KPR FLPP.
Sebaliknya, pangsa pasar rumah subsidi syariah pada periode yang sama tahun 2025 masih bertengger di angka 25,42 persen.
BACA JUGA:Rumah Subsidi Syariah Kian Bergairah
Untuk skema konvensional, pangsa pasarnya menyusut dari 74,58 persen menjadi 71,20 persen per akhir September 2026.
Penyusutan pangsa pasar rumah subsidi konvensional terjadi lantaran realisasi unit yang dibiayai turun 16,39 persen menjadi 117.491 unit per akhir September 2026.
Pada saat yang sama, realisasi KPR FLPP syariah turun sekitar 0,81 persen menjadi 47.517 unit.
Tipisnya penurunan rumah subsidi syariah tak terlepas dari kemampuan pemain utama di segmen tersebut, yaitu PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Anak usaha PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) itu mampu mengerek penyaluran KPR FLPP sekitar 8,15 persen menjadi 40.899 unit senilai Rp5,03 triliun pada rentang Januari-September 2026.
BACA JUGA:Lima Bank Syariah Favorit MBR dalam Membeli Rumah Subsidi