Jakarta, landbank.co.id- Asosiasi developer Realestat Indonesia (REI) masih kokoh di puncak daftar penyerap anggaran rumah subsidi berskema kredit pemilikan rumah (KPR) fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) alias KPR FLPP.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), sepanjang Januari-September 2026, REI menyerap KPR FLPP sebesar Rp8,63 triliun.
Anggaran tersebut setara dengan untuk mengguyur sebanyak 69.320 rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
BACA JUGA:Dua Bank Penyalur KPR FLPP Ini Torehkan Nilai Transaksi Saham Bejibun
Raihan REI pada sembilan bulan 2026 terlihat menurun bila dibandingkan dengan periode sama 2025.
Per akhir September 2025, penyerapan KPR FLPP REI sekitar Rp9,78 triliun setara untuk membiayai 78.871 rumah subsidi.
REI yang merupakan asosiasi developer tertua di Indonesia, yakni berdiri sejak 11 Februari 1972, mengoleksi pangsa pasar (market share) rumah subsidi sebesar 42,01 persen (dari sisi unit) dan 42,01 persen (dari sisi nilai).
BACA JUGA:Kejar Target FLPP 350.000 Unit, BP Tapera Siapkan 60.000 Rumah Subsidi Recycle
Pangsa pasar REI pada Januari-September 2026 itu terlihat meningkat bila disandingkan dengan periode sama 2025.
Maklum, per akhir September 2025, pangsa pasar REI tercatat masih berada di posisi 41,86 persen (unit) dan 41,82 persen (nilai).
Kondisi sebaliknya dialami oleh Asosiai Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi).
BACA JUGA:Di Sela Akad Massal FLPP, Prabowo: Belajar dari India
Per akhir September 2026, market share asosiasi yang berdiri sejak 10 November 1998 itu tercatat sekitar 28,82 persen (unit) dan 28,95 persen (nilai).
Padahal, pada periode sama 2025, pangsa pasar rumah subsidi Apersi masih bercokol di level 30,07 persen (unit) dan 30,22 persen (nilai).
Per akhir September 2025, Apersi menyerap KPR FLPP senilai Rp7,07 triliun setara untuk membiayai 56.663 rumah subsidi.