BACA JUGA:Market Share Rumah Subsidi REI dan Apersi Turun
Ketua Umum DPP Apersia, Deddy Indrasetiawan mengaku bahwa pada 2026, pihaknya siap menyalurkan KPR FLPP sebanyak 120.000 rumah subsidi.
"Kami targetkan tahun ini siap 120.000 unit," kata Deddy di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Mirip dengan Apersi, peringkat ketiga terbesar, yakni Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) juga mencatat penurunan realiasi penyaluran KPR FLPP sekaligus membukukan penurunan market share.
Asosiasi pengembang yang berdiri pada 25 Agustus 2018 ini mencatat penurunan realisasi penyaluran KPR FLPP (unit) sekitar 15,21 persen dari semula 22.237 unit menjadi 18.855 rumah subsidi.
BACA JUGA:Pangsa Pasar KPR FLPP BTN Stabil, Kuasai 70,42 Persen
Dari sisi nilai, melemah sekitar 15,33 persen menjadi Rp2,32 triliun dari semula sebesar Rp2,74 triliun per akhir Agustus 2025.
Per akhir Agustus 2026, pangsa pasar rumah subsidi Himperra tercatat sebesar 13,47 persen (unit) dan 13,30 persen (nilai).
Sebaliknya, pada periode sama 2025, market share rumah subsidi Himperra masing-masing 13,57 persen (unit) dan 13,46 persen (nilai).
Turunnya realisasi KPR FLPP tiga asosiasi pengembang properti terbesar di Indonesia itu membuat penyaluran subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) turut melemah.
BACA JUGA:BTN Masih Dominasi KPR FLPP, Kuasai 71,12 Persen
Maklum, ketiga asosiasi pengembang properti ini menguasai pangsa pasar rumah subsidi sebesar 84,25 persen sebanyak 99.104 unit.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, realisasi KPR FLPP secara nasional melemah sekitar 14,58 persen dari sisi unit, yakni dari 163.831 rumah subsidi menjadi 139.945 unit.
Dari sisi nilai, turun 15 persen dari semula Rp20,33 triliun menjadi sekitar Rp17,41 triliun per akhir Agustus 2026.
BACA JUGA:Realisasi KPR FLPP Sentuh 121.859 Unit, Turun 17 Persen
Mengutip data BP Tapera, penyaluran KPR FLPP periode Januari-Agustus 2026 melibatkan 23 asosiasi pengembang properti, sedangkan pada periode sama diikuti oleh 21 perhimpunan developer di Indonesia.