Jakarta, landbank.co.id- Realestat Indonesia (REI) masih menjadi asosiasi pengembang properti yang paling getol menggarap rumah subsidi.
Indikasi itu tercermin dari realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (KPR FLPP) alias KPR rumah subsidi yang digulirkan pemerintah.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), sepanjang Januari-Agustus 2026, REI menempati peringkat pertama dalam daftar asosiasi pengembang penyalur KPR FLPP.
BACA JUGA:Pangsa Pasar KPR FLPP BNI Menggeliat
Pada periode itu REI menyalurkan KPR FLPP sebanyak 58.833 rumah subsidi setara dengan sekitar Rp7,32 triliun.
Pangsa pasar (market share) asosiasi yang berdiri sejak 11 Februari 1972 itu menyentuh 42,04 persen (unit) dan 42,03 persen (nilai).
Selain masih memuncaki daftar asosiasi pengembang paling getol menggarap rumah subsidi, pangsa pasar REI sepanjang Januari-Agustus 2026 meningkat bila disandingkan dengan periode sama 2025.
BACA JUGA:Begini Market Share Rumah Subsidi Lima Asosiasi, Asprumnas Naik Kelas
Dalam rentang Januari-Agustus 2025, pangsa pasar REI masih bertengger di angka 41,83 persen (unit) dan 41,80 persen (nilai).
Kondisi itu berbanding terbalik dengan peringkat kedua terbesar, yakni Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi).
Asosiasi yang berdiri sejak 10 November 1998 itu mencatat penurunan pangsa pasar, yakni dari 30,17 persen (unit) menjadi 28,78 persen (unit), sedangkan dari sisi nilai turun menjadi 28,93 persen dari semula 30,32 persen.
BACA JUGA:Jakarta Menuju “City of Home”, REI Dorong Kolaborasi Pengembang dan Pemerintah
Penurunan market share rumah subsidi Apersi seiring dengan turunnya realisasi KPR FLPP sepanjang Januari-Agustus 2026.
Masih mengutip data BP Tapera, per akhir Agustus 2026, realisasi KPR FLPP Apersi sebanyak 40.271 unit senilai Rp5,04 triliun, sedangkan pada periode sama 2025 sebanyak 49.430 unit senilai Rp6,16 triliun.
Artinya, realisasi penyaluran KPR FLPP Apersi turun 18,53 persen (unit) dan melemah 18,18 persen dari sisi nilai.