Selain itu, segmen Community Living masih menyumbang sekitar 8 persen dari pendapatan Perseroan. Meski demikian, segmen ini memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan seiring tingginya respons pasar terhadap proyek hunian terbaru Perseroan.
“Dengan fundamental bisnis yang semakin kuat, diversifikasi sumber pendapatan yang semakin seimbang, serta pipeline proyek yang solid, Perseroan optimistis mampu mempertahankan momentum pertumbuhan positif di semester kedua tahun ini,” ujar Budi Agusti, presiden direktur PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk, beberapa waktu lalu.
Laju Investasi
Mengutip laporan keuangan yang telah dipublikasikan oleh para emiten properti itu terlihat bahwa sektor properti masih memiliki potensi, sekalipun dibayang-bayangi oleh persoalan geopolitik dan daya beli masyarakat.
BACA JUGA:Tanrise Property Terus Ekspansi, Garap Vasa Ubud Rp1 Triliun
Potensialnya sektor properti turut ditopang oleh laju investasi yang dikucurkan oleh para pengembang selama enam bulan pertama 2026.
Mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang enam bulan pertama 2026, realisasi investasi sektor properti menyentuh Rp85,8 triliun.
Realisasi investasi sektor properti pada enam bulan pertama 2026 yang mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran didominasi oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN), yakni Rp55,3 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) menyentuh Rp30,5 triliun.
Dalam pandangan RISE, investasi yang dikucurkan dalam ekspansi pada 2026 bertujuan untuk memerkuat pertumbuhan. Salah satu langkah investasi itu adalah dengan menggulirkan proyek resor Vasa Ubud, Bali dengan nilai investasi total Rp1 triliun.
Tanrise Property melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) sebagai tanda dimulainya pembangunan proyek Vasa Ubud Jumat, 17 Juli 2026.
BACA JUGA:Lebih dari Separuh Emiten Properti Meraup Laba Bersih
“Pembangunan Vasa Ubud sebagai langkah ekspansi masif dari Perseroan dan pengembangan proyek ini merupakan bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan sesuai dengan strategi bisnis jangka Panjang Perseroan,” urai Go Herliani Prayogo, corporate secretary PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk dalam keterangan tertulis, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mengalokasikan modal kerja (capital expenditure/capex) sekitar Rp1 triliun pada 2026, relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Selain untuk penambahan landbank, capex juga dialokasikan untuk pengembangan mal baru di Makassar dan pengembangan rumah sakit di lokasi-lokasi baru.
“Perseroan memerkirakan kebutuhan capex akan tetap berada pada kisaran Rp1 triliun per tahun,” kata manajemen Ciputra, beberapa waktu lalu.