Berawal dari pengembangan material berbasis mycelium untuk mengolah limbah pertanian menjadi alternatif material yang lebih berkelanjutan, MYCL kini memiliki portofolio yang mencakup mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer. Inovasi tersebut tidak hanya mendukung transisi industri menuju material rendah dampak, tetapi juga membuka peluang nilai tambah bagi petani dan pekerja hijau di rantai pasok biomaterial.
BACA JUGA:Winner Raih Penjualan Rumah Nyaris Rp23 Miliar
Dukungan DBS Foundation membantu MYCL memperkuat fondasi bisnis dan inovasinya, termasuk pendaftaran dua paten yang kemudian dikabulkan pada 2019 dan 2023, tiga merek dagang, serta sertifikasi B Corp yang menjadi bagian penting dari tata kelola dampak perusahaan.
Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara dan mengembangkan aplikasi material ke berbagai kebutuhan, mulai dari fesyen, insulasi bangunan, hingga solusi berbasis mycelium untuk teknologi bernilai tambah tinggi.
MYCL juga telah menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas, yang menunjukkan meningkatnya penerimaan pasar global terhadap biomaterial dari Asia Tenggara.
Dari sisi dampak lingkungan dan sosial, pada 2025 MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa, menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa, serta meng-upcycle 1,70 ton limbah substrat kembali ke rantai nilai.
BACA JUGA:Ekonomi Tumbuh 5,29%: Prabowo Dikritik- kenyataan Menjawab
Dibandingkan kulit hewan, produksi biomaterial MYCL juga mencatat penghematan sekitar 39.887 liter air dan penurunan emisi sekitar 27,5 ton CO2.
Melalui model produksi tersebut, MYCL turut memberikan manfaat bagi lebih dari 200 petani, lebih dari 600 penerima manfaat tidak langsung dari keluarga petani, serta menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau di MYCL Eco Factory.
“Bagi MYCL, dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu kami mengembangkan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi agar inovasi dapat tumbuh menjadi bisnis berdampak. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” jelas Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo.
Komitmen Jangka Panjang
Sementara itu, sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia.
Di Indonesia, DBS Foundation telah mengalokasikan lebih dari SGD4 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 20 social enterprises dan bisnis berdampak yang inovatif.
BACA JUGA:Kementerian Ekraf dan TikTok Go Perluas Akses Pasar Pegiat Ekonomi Kreatif
Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen DBS Foundation untuk meningkatkan kualitas hidup dan mata pencaharian komunitas rentan, baik melalui pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan inklusi keuangan dan digital, maupun penguatan usaha berdampak yang mampu menghadirkan solusi berkelanjutan.