Transformasi Digital Maritim, PELNI Gandeng BuanterOne Terapkan Satelit LEO

Sistem Komunikasi Kapal berbasis satelit LEO BuanterOne untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan konektivitas armada nasional PELNI./Foto: dok. PT PELNI.

Jakarta, landbank.co.id – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI resmi melakukan transformasi digital sektor maritim nasional melalui implementasi Sistem Komunikasi Kapal (SisKomKap) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO).

Langkah strategis ini ditempuh melalui kerja sama dengan BuanterOne, penyedia layanan telekomunikasi satelit di bawah naungan PT Dwi Tunggal Putra (DTP), untuk periode 2026–2029.

Bacaan Lainnya

Kerja sama tersebut ditandai dengan seremoni kick-off yang digelar di atas KM Nggapulu saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa,  Pemilihan lokasi di atas kapal menjadi simbol komitmen PELNI dalam menghadirkan teknologi digital langsung ke jantung operasional pelayaran nasional.

Vice President Southeast Asia Eutelsat OneWeb, Bala Balamurali, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan PELNI kepada OneWeb melalui DTP sebagai mitra eksklusif di Indonesia.

“Terima kasih kepada PT PELNI (Persero) atas kepercayaan yang diberikan kepada OneWeb untuk melayani proyek SisKomKap melalui PT Dwi Tunggal Putra sebagai exclusive partner OneWeb di Indonesia. Layanan satelit LEO OneWeb generasi pertama menghadirkan latensi rendah, bandwidth besar, konektivitas aman, serta komitmen kami untuk terus berkembang demi masa depan konektivitas Indonesia yang lebih tangguh,” ujar Bala dalam keterangan resmi yang diterima landbank.co.id, Minggu, 31 Januari 2026.

Sebelumnya, PELNI menggunakan layanan komunikasi berbasis satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) yang berada di ketinggian sekitar 35.786 kilometer dari permukaan Bumi. Sementara itu, satelit LEO beroperasi jauh lebih dekat, yakni di ketinggian 500–1.200 kilometer.

Perbedaan orbit tersebut berdampak signifikan terhadap kualitas koneksi. Satelit LEO memiliki latensi rendah sekitar 70–100 milidetik (ms)—mendekati kualitas jaringan fiber optik—sementara satelit GEO memiliki latensi tinggi di kisaran 550–1.500 ms, sehingga koneksi cenderung lebih lambat.

Implementasi teknologi satelit LEO menjadi fondasi utama penguatan SisKomKap PELNI. Teknologi ini menawarkan bandwidth tinggi dan konektivitas real-time yang stabil, termasuk saat kapal beroperasi di wilayah perairan terpencil dan terdalam Indonesia.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI (Persero), Anik Hidayati, menegaskan bahwa modernisasi sistem komunikasi kapal merupakan bagian dari penerapan Good Corporate Governance (GCG) sekaligus upaya meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan publik.

“Pemanfaatan teknologi satelit LEO BuanterOne di seluruh armada PELNI merupakan wujud nyata digitalisasi maritim. Konektivitas yang lebih stabil memungkinkan koordinasi antara kantor pusat dan kru kapal berlangsung cepat dan akurat. Ini bukan semata soal teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pelayaran, efisiensi operasional, serta kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama kami,” ujar Anik.

Dari sisi teknologi, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, Budi Santoso, menjelaskan bahwa solusi yang dihadirkan dirancang khusus untuk menjawab kompleksitas operasional sektor maritim nasional.

Pos terkait