Sebagai informasi, sebelumnya, PELNI menggunakan layanan komunikasi berbasis satelit Geostationary Earth Orbit (GEO). Satelit GEO berada pada ketinggian sekitar 35.786 kilometer dari permukaan Bumi. Sementara itu satelit LEO beroperasi pada ketinggian lebih rendah, yakni sekitar 500–1.200 kilometer.
Perbedaan jarak orbit tersebut berdampak signifikan terhadap kualitas koneksi. Satelit LEO memiliki latensi rendah, berkisar 70–100 milidetik (ms) atau mendekati kualitas jaringan fiber optik, sedangkan satelit GEO memiliki latensi lebih tinggi, sekitar 550–1.500 ms, sehingga koneksi cenderung lebih lambat.
Teknologi LEO menawarkan bandwidth tinggi dan latensi rendah, memungkinkan komunikasi dan pertukaran data berlangsung stabil dan real-time, termasuk saat kapal beroperasi di wilayah perairan terpencil dan terdalam Indonesia.
Dengan begitu, implementasi SisKomKap berbasis satelit LEO ini diharapkan mampu mengoptimalkan proses bisnis PELNI dengan menghubungkan kantor pusat dan armada secara real-time.
(*)





