Rumah Tapak Pinggiran Jakarta Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Ini Alasannya

Rumah Tapak Pinggiran Jakarta Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Ini Alasannya

Jakarta, landbank.co.id – Minat generasi muda terhadap rumah tapak di wilayah pinggiran Jakarta terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring harga hunian di pusat kota yang semakin tinggi serta berkembangnya infrastruktur transportasi massal.

Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia, Martin Hutapea, mengatakan tren pembelian rumah tapak kini didominasi kelompok usia muda.

“Pembeli rumah tapak meningkat cukup signifikan, rata-rata berasal dari usia 20 hingga 30 tahunan,” ujar Martin dalam acara Sinar Mas Land Property Outlook 2026 di Jakarta.

Menurutnya, selain harga yang lebih terjangkau, generasi muda juga semakin selektif dalam memilih lokasi hunian.

“Mereka memilih lokasi dengan akses transportasi mudah, terutama dekat kawasan transit oriented development (TOD),” katanya.

Martin menjelaskan, kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) saat ini menjadi pilihan utama Gen Z dan Milenial untuk membeli rumah pertama.

Ia menilai perubahan preferensi ini dipengaruhi tingginya harga properti di Jakarta, sementara sebagian besar pekerja masih beraktivitas di ibu kota.

“Gen Z dan Milenial sekarang justru banyak mencari rumah di pinggiran, bukan lagi di tengah kota,” ujarnya.

Kawasan penyangga Jakarta dinilai menawarkan keseimbangan antara harga, aksesibilitas, dan kualitas lingkungan hunian.

Generasi muda cenderung memilih perumahan yang dekat transportasi massal seperti KRL dan LRT, sekaligus memiliki fasilitas pendukung lengkap mulai dari pusat ritel, restoran, rumah ibadah, hingga ruang terbuka hijau.

Dari sisi harga, rumah tapak dengan kisaran Rp500 juta hingga Rp2 miliar menjadi segmen paling diminati.

Pembelian umumnya dilakukan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan uang muka sekitar 10–30 persen serta tenor cicilan 15–20 tahun.

Martin menjelaskan pola pembelian generasi muda biasanya dimulai dengan menabung pada usia 21–30 tahun untuk mempersiapkan uang muka, sementara mereka masih menyewa hunian.

“Keputusan membeli rumah biasanya terjadi saat memasuki usia sekitar 32 tahun, terutama setelah menikah dan memiliki penghasilan gabungan dengan pasangan,” terangnya.

Melihat tingginya minat pasar terhadap rumah tapak terjangkay, Deputy Group CEO Strategic Development & Assets Sinar Mas Land, Herry Hendarta, mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan strategi pemasaran adaptif melalui strategic partnership dalam peluncuran produk baru. Lalu, menambah fasilitas di township, seperti pusat perbelanjaan, sekolah, dan sport center.

“Jadi itulah strategi kita untuk membuat kita punya township atau city kita berbeda dan bisa kompetitif menghadapi dinamika pasar, dinamika global, di mana kita melihat juga sangat positif kita punya market,” ucapnya.

“Kami melakukan riset pasar dan menyesuaikan produk agar dapat menjangkau segmen hingga harga Rp2 miliar,” ujar Herry.

Menurutnya, kebijakan insentif pemerintah berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga Rp2 miliar turut membantu meningkatkan daya beli masyarakat.

Selain itu, pengembang juga memperkuat daya tarik township dengan menambah fasilitas seperti pusat perbelanjaan, sekolah, hingga sport center.

“Strategi ini membuat township kami lebih kompetitif menghadapi dinamika pasar yang terus berubah,” katanya.

(*)