2026, Ada 11 Ribu Lebih Kondominium Masuk Jabodetabek
Di sisi lain, jelas dia, pertumbuhan harga diperkirakan tetap stabil sampai tahun 2026. Harga diperkirakan tetap stabil karena insentif PPN DTP masih berlanjut, sehingga membantu menjaga keterjangkauan dan mendorong permintaan di segmen-segmen utama.
Dia menambahkan, proyek kondominium yang terletak dekat dengan transportasi public mass rapid transit (MRT), light rapid transit (LRT), dan kereta rel Listrik (KRL) mencatat kinerja penjualan lebih baik.
Jalur MRT
Sementara itu, jelas Arief, saat ini, tingkat penjualan kondominium di dekat jalur MRT menyentuh 97,2 persen, sedangkan rata-rata tingkat penjualan di Jabodetabek 94,2 persen.
Tingkat okupansi pun demikian. Kondominium di jalur MRT mencatat okupansi 71,2 persen, sedangkan okupansi di Jabodetabek 65,4 persen.
Melihat data di atas, tren ini diperkirakan terjadi juga di sepanjang jalur MRT Fase 2A, yang direncanakan beroperasi pada 2029.
Kajian Cushman & Wakefield menyebutkan bahwa terdapat beberapa dampak positif yang dapat dimanfaatkan bagi proyek kondominium di sepanjang jalur MRT.
Pertama, harga jual kembali dan wewa yang lebih tinggi. Aspek ini menjadi daya tarik yang baik untuk calon investor.
Kedua, renovasi bangunan (redevelopments) yang pemanfaatannya kurang optimal.
Kondisi itu merupakan peluang baru untuk melakukan redevelopment dan renovasi bangunan eksisting menjadi hunian, dikarenakan lahan kosong yang sulit ditemukan di area tersebut.
Ketiga, peningkatan konektivitas dan daya tarik area. Jalur baru yang menghubungkan pusat kawasan bisnis (central business district/CBD) dan pusat wisata ini diperkirakan menarik lebih banyak pengunjung dan investasi, sehingga meningkatkan daya tarik dan citra kawasan secara keseluruhan.
(*)