Di sisi lain, PJAA membukukan kenaikan laba bersih sekitar sekitar 1 persen pada 2025 bila disandingkan dengan tahun 2024.
Pada 2025, laba bersih PJAA sebesar Rp180,19 miliar, sedangkan tahun 2024 masih sekitar Rp177,79 miliar.
Pada 2025, jumlah aset PJAA tercatat sebesar Rp3,63 triliun, sedangkan setahun sebelumnya masih berada di level Rp3,59 triliun.
Sebaliknya, liabilitas PJAA turun dari semula Rp1,86 triliun pada 2024 menjadi Rp1,77 triliun pada tahun lalu.
Baca juga: Pendapatan Tiket Masih Andalan PJAA, Sentuh Rp332 Miliar
PJAA juga mampu meningkatkan ekuitas menjadi Rp1,86 triliun pada 2025 disandingkan dengan raihan 2024 yang senilai Rp1,73 triliun.
Pengembangan 2026
Sementara itu, untuk menjaga daya saing Taman Impian Jaya Ancol dalam jangka panjang, terutama dengan munculnya destinasi baru seperti kawasan PIK, PJAA telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan dan inovasi yang secara bertahap dan berkelanjutan.
Pertama, fokus pada revitalisasi kawasan existing, termasuk modernisasi wahana, peningkatan kualitas fasilitas pengunjung, serta penguatan konektivitas dan kenyamanan pengunjung.
Baca juga: PJAA Realisasikan Dana Penawaran Umum Rp503,06 miliar
Kedua, memperluas kerjasama strategis dengan mitra untuk menghadirkan konten dan pengalaman baru yang memiliki daya tarik lebih kuat.
“Di samping itu, pengembangan kawasan waterfront, peningkatan kualitas pantai, dan diversifikasi kegiatan MICE, festival, serta event skala besar akan menjadi bagian penting dalam menarik segmen wisatawan yang lebih luas,” terang manajemen PJAA dalam paparan publik, beberapa waktu lalu.
Dalam periode 2026–2036, Ancol menyiapkan rencana pengembangan jangka panjang berbasis tiga pilar strategis: Experiential Tourism, Integrated Destination Development, dan Digital & Sustainable Transformation.
“Seluruh inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat posisi Ancol sebagai kawasan wisata terpadu terbesar dan paling berkelanjutan di Asia Tenggara,” kata manajemen PJAA.
Baca juga: NICE PIK 2 Bakal Jadi Tempat Java Jazz Festival 2026
Per akhir Desember 2025, pemegang saham PJAA terdiri atas Pemerintah DKI Jakarta sebesar 72,00 persen, PT Pembangunan Jaya 18,01 persen, dan masyarakat 9,99 persen.
(*)





