XAU/USD Bertahan di Level Tinggi, Prospek Emas Masih Positif

XAU/USD Bertahan di Level Tinggi, Prospek Emas Masih Positif

Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini Rabu, 14 Januari 2026. Meskipun sempat mengalami koreksi terbatas setelah rilis data inflasi Amerika Serikat.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menuturkan bahwa pelemahan yang terjadi dinilai masih wajar dan belum mengubah arah tren utama pergerakan emas.

“Koreksi tipis itu dipicu oleh data inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga relatif stabil, sehingga memicu aksi ambil untung jangka pendek,” terang Andy dalam analisisnya yang diterima landbank.co.id Rabu, 14 Januari 2026.

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2026, XAU/USD tercatat berada di level USD 4.590 per troy ounce, melemah sekitar 0,15 persen setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di kisaran USD 4.634.

Ia juga menyampaikan berdasarkan kajian teknikal yang mengombinasikan pola candlestick dan indikator Moving Average, pergerakan emas masih berada dalam tren naik.

“Struktur harga emas saat ini masih menunjukkan dominasi minat beli. Selama harga mampu bertahan di atas level support terdekat, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka,” ujar Andy.

Ia memproyeksikan bahwa apabila momentum bullish kembali menguat, harga emas berpotensi bergerak naik hingga mendekati area USD 4.650.

Level tersebut dinilai sebagai target kenaikan jangka pendek yang cukup signifikan secara teknikal. Namun, Andy juga mengingatkan adanya potensi koreksi jika tekanan jual meningkat. Dalam skenario tersebut, harga emas berpeluang turun ke area USD 4.565.

Dari sisi fundamental, harga emas kembali memperoleh sentimen positif pada awal sesi Asia Rabu dengan pergerakan naik ke kisaran USD 4.600. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga AS, menyusul data inflasi yang dirilis lebih rendah dari perkiraan.

Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat menunjukkan inflasi inti hanya meningkat 0,2 persen secara bulanan, di bawah estimasi pasar sebesar 0,3 persen, serta relatif stabil secara tahunan di level 2,6 persen. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter sepanjang tahun ini.

Lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung menurunkan opportunity cost dalam memegang emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global juga terus menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Meski demikian, penguatan dolar AS masih menjadi faktor pembatas bagi kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Indeks Dolar AS tercatat menguat ke level 99,15, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru turun ke kisaran 4,17 persen.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi lanjutan, seperti Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS, yang akan menjadi petunjuk tambahan terkait arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai prospek pergerakan emas hari ini masih cenderung positif dengan peluang mempertahankan tren bullish.

(*)