Ketidakpastian Global Dongkrak Emas ke Puncak Tertinggi dalam Sejarah
Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia (XAU/USD) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan modern setelah menembus level psikologis US$4.000 per troy ons pada sesi Asia, Rabu, 8 Oktober 2025.
Lonjakan harga ini memperpanjang reli impresif logam mulia di tengah meningkatnya ketidakpastian fiskal dan geopolitik global.
Berdasarkan pantauan dalam perdagangan, emas sempat mencapai US$3.991 per troy ons dalam perdagangan Selasa malam (7/10) waktu Amerika Utara, sebelum ditutup di kisaran US$3.982, naik sekitar 0,60% dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, penguatan harga emas kali ini didorong oleh kombinasi ketidakpastian politik di Amerika Serikat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
“Ketidakpastian fiskal serta prospek pelonggaran kebijakan moneter mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Kombinasi dua faktor ini menjaga dominasi tren bullish di pasar XAU/USD,” jelas Andy Nugraha dalam riset yang diterima landbank.co.id.
Secara teknikal, Andy menilai momentum kenaikan emas masih kuat. Pola candlestick dan indikator Moving Average (MA) menunjukkan tren naik yang konsisten.
“Selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat, peluang kenaikan menuju level psikologis US$4.050 masih terbuka lebar,” ujarnya.
Meski demikian, Andy mengingatkan bahwa potensi koreksi teknikal tetap ada setelah reli panjang. Jika momentum melemah, harga emas berpotensi turun ke kisaran US$3.962, yang menjadi batas bawah untuk menguji kekuatan pembeli di pasar.
Reli emas tak lepas dari kekhawatiran pasar atas shutdown pemerintah AS yang kini memasuki minggu kedua. Kebuntuan politik di Washington telah menunda publikasi sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan bulanan (Nonfarm Payrolls/NFP).
Kondisi ini diperburuk oleh meningkatnya risiko geopolitik di Eropa dan Asia. Di Jepang, kemenangan mengejutkan Sanae Takaichi dalam pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan Bank of Japan (BoJ)
Sementara di Prancis, pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu hanya beberapa jam setelah pelantikan kabinet barunya memperburuk krisis politik di kawasan Euro.
Pasar kini menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis Kamis (9/10) dini hari waktu Indonesia. Menurut alat pemantau CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan The Fed bulan Oktober mencapai sekitar 83%, dengan peluang tambahan penurunan pada Desember mendekati 80%.
Kebijakan moneter yang lebih longgar akan menekan imbal hasil dolar AS, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (store of value) di tengah ketidakpastian global.
“Selama tekanan beli masih mendominasi dan dolar AS tidak mengalami pembalikan yang signifikan, emas berpotensi memperpanjang reli menuju rekor baru di atas US$4.000,” pungkas Andy Nugraha.
(*)