Mengenal Lima Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
- Permintaan dan penawaran
Selain faktor makro, ada hal sederhana hukum supply and demand. Permintaan emas bukan hanya dari investor, tetapi juga dari industri perhiasan dan teknologi. Negara seperti India, misalnya, selalu meningkatkan permintaan emas menjelang musim pernikahan, karena emas jadi bagian penting dalam tradisi.
Di sisi lain, jumlah emas yang bisa ditambang terbatas. Produksinya tidak bisa serta-merta ditingkatkan meski permintaan melonjak. Keterbatasan inilah yang membuat harga emas bisa naik ketika banyak orang memburunya.
- Nilai tukar dolar AS
Harga emas dunia biasanya dihitung dalam dolar AS. Itu sebabnya, ketika dolar menguat terhadap rupiah, harga emas di Indonesia otomatis ikut naik, meski harga emas global sedang stabil. Sebaliknya, kalau dolar melemah, harga emas bisa lebih terjangkau bagi investor non-AS, sehingga permintaan ikut naik dan mendorong harganya.
Kenaikan harga emas adalah hasil dari kombinasi banyak faktor mulai dari geopolitik, kebijakan suku bunga, inflasi, supply dan demand, hingga nilai tukar dolar. Tidak heran kalau emas selalu menjadi aset favorit, terutama saat situasi ekonomi dunia tidak menentu.
Bagi kamu yang ingin mulai berinvestasi, memahami faktor-faktor ini penting supaya lebih bijak dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual emas. Ingat, emas bukan sekadar logam mulia berkilau, tapi juga instrumen keuangan yang bisa menjaga stabilitas keuangan pribadi di tengah badai ekonomi global.
Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat, Diproyeksi Tembus Level $3.600 Hari Ini
Simulasi Keuntungan Investasi Emas
Mari kita coba hitung dengan skenario sederhana:
Misalnya kamu beli 10 gram emas pada 13 September 2024 di neobank dari Bank Neo Commerce. Harga beli pada saat itu adalah Rp1.290.000.
Maka, Rp1.290.000 × 10 = Rp12.900.000
Lalu, misalnya nilai jual pada 12 September 2025 adalah Rp1.931.000
Maka, Rp1.931.000 × 10 = Rp19.310.000
Dengan begitu, keuntungan kotor: Rp 6.410.000