Jakarta, landbank.co.id – Analis Dupoin Futures Indonesia memproyeksikan harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026, bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melanjutkan penguatan di tengah proses konsolidasi pasar.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai tekanan yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya belum mengubah arah tren utama emas yang masih berada dalam fase naik. Koreksi harga dinilai sebagai penyesuaian wajar setelah reli yang cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.
“Penurunan lebih dari 1 persen yang terjadi pada sesi Amerika Utara sebelumnya tidak serta-merta membalikkan tren emas. Secara umum, struktur pergerakan masih menunjukkan kecenderungan bullish,” ujar Andy Nugraha dalam kajiannya.
Pada perdagangan terakhir, harga emas sempat menyentuh level tertinggi tiga hari di kisaran US$5.091 per ounce, sebelum mengalami koreksi dan kembali bergerak di area US$4.901. Tekanan tersebut dipicu oleh penguatan moderat dolar AS serta beragam sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan.
Meski demikian, Andy menegaskan koreksi tersebut masih tergolong sehat. Secara teknikal, harga emas masih bertahan di atas indikator Moving Average utama, dengan pola candlestick harian yang mencerminkan dominasi pembeli belum sepenuhnya melemah.
“Dua skenario pergerakan emas hari ini. Pada skenario positif, jika tekanan beli kembali menguat dan harga mampu bertahan di area support, XAU/USD berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance di kisaran US$5.086 per ounce. Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan momentum, potensi koreksi lanjutan diperkirakan mengarah ke area support terdekat di sekitar US$4.841 per ounce,” ujar Andy.
Dari sisi fundamental, Andy mengungkapkan bahwa harga emas kembali mendapat dukungan pada awal perdagangan Asia, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven.
“Harga XAU/USD sempat menguat mendekati level US$5.005 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya setelah insiden penembakan drone Iran oleh militer Amerika Serikat di wilayah Laut Arab,” terangnya.
Meski demikian, potensi penguatan emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Penguatan dolar AS, yang tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) di level 97,67, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve menjadi faktor penahan laju kenaikan harga emas.
“Pasar saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga The Fed pada Juni 2026 berada di kisaran 46 persen, di tengah pandangan bahwa bank sentral AS masih berpotensi bersikap hawkish. Selain itu, data ekonomi AS yang bervariasi turut meningkatkan volatilitas pasar. Laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja yang lebih rendah dari ekspektasi, sementara PMI Jasa AS justru mencatatkan kinerja di atas perkiraan,” tutur Andy.
Menurut Andy Nugraha, kombinasi sentimen teknikal dan fundamental tersebut membuat pergerakan harga emas diperkirakan tetap fluktuatif, namun masih menyimpan peluang penguatan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk tetap disiplin dalam menerapkan strategi perdagangan serta manajemen risiko yang terukur.
(*)





