Jakarta, landbank.co.id– PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan penurunan pendapatan sekitar 49 persen pada Januari-Juni 2025 disandingkan dengan periode yang sama 2024.
Merujuk laporan keuangan PT Lippo Karawaci Tbk, emiten berkode saham ini meraih pendapatan Rp4,11 triliun per akhir Juni 2025.
Sebaliknya, pada paruh pertama 2024, pendapatan PT Lippo Karawaci Tbk masih bertengger di posisi Rp8,00 triliun.
Mengutip laporan keuangan LPKR, per akhir Juni 2025, penjualan rumah hunian dan rumah toko (ruko) menjadi andalan utama dengan membungkus Rp1,47 triliun.
Penjualan rumah dan ruko pada paruh pertama 2025 itu naik sekitar 24 persen bila dibandingkan dengan periode sama 2024 yang sekitar Rp1,19 triliun.
Kontribusi rumah dan ruko terhadap total pendapatan LKPR untuk periode paruh pertama 2025 dan 2024 masing-masing sekitar 36 persen dan 15 persen.
Baca juga: Raih Pendapatan Rp2,24 Triliun, Bos Lippo Cikarang Bilang Begini
Lonjakan juga terjadi dalam penjualan apartemen. Pada semester pertama 2025, LPKR membukukan penjualan apartemen sebesar Rp1,08 triliun, sedangkan pada periode sama 2024 masih senilai Rp129,17 miliar.
Artinya, penjualan apartemen Lippo Karawaci pada enam bulan pertama 2025 melonjak sekitar 740 persen.
Peningkatan penjualan itu membuat kontribusi apartemen terhadap total pendapatan menjadi sekitar 26 persen per akhir Juni 2025, sedangkan pada paruh pertama 2024 masih sebesar 2 persen.
Lippo Karawaci membukukan penurunan laba bersih sekitar 93 persen pada paruh pertama 2025 dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Per akhir Juni 2025, laba bersih LPKR senilai Rp137,90 miliar, sedangkan pada periode sama 2024 masih di angka Rp19,88 triliun.
“Kami memulai tahun 2025 dengan positif, didukung oleh eksekusi yang terfokus, ketahanan operasional, dan disiplin finansial yang kuat,” jelas John Riady, Group CEO Lippo Indonesia, beberapa waktu lalu.
Baca juga: LPKR Membalikkan Keadaan
Dia menerangkan, strategi yang digulirkan pihaknya dalam menyediakan hunian terjangkau terus mendapatkan respons positif dari konsumen akhir, sementara upaya pengurangan utang mulai menunjukkan hasil nyata melalui penurunan biaya bunga.