Indonesia Memikat Asing, Realisasi PMA Properti Rp125,3 Triliun

Arus penanaman modal asing (PMA) di sektor properti, yakni mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran terus mengalir ke Indonesia/foto: landbank.co.id

Jakarta, landbank.co.id– Arus penanaman modal asing (PMA) di sektor properti, yakni mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran terus mengalir ke Indonesia.

Mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang 2023 hingga 2025, sekalipun mengalami fluktusi, realisasi PMA di sektor properti terus berdenyut.

Bacaan Lainnya

Pada rentang waktu tersebut realisasi PMA di sektor properti menyentuh sekitar Rp125,3 triliun.

Angela Wibawa, managing director CBRE Advisory Indonesia, memerkirakan bahwa pasar properti Asia-Pasifik menggeliat pada 2026.

Dia menilai, aktivitas investasi dan sewa diperkirakan menguat didukung oleh latar belakang ekonomi yang tangguh.

Baca juga: Realisasi Investasi Sektor Properti Sentuh Rp681,7 Triliun

“Indonesia tetap menarik bagi investor asing, didukung oleh sumber daya alam yang melimpah, kekuatan komoditas, dan pasar konsumen yang besar dan tumbuh pesat,” papar dia di Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.

Faktor-faktor dasar ini, kata Angela, akan terus menjadi pendorong permintaan di sektor industri/logistik, perkantoran, ritel, dan perhotelan dalam beberapa tahun ke depan.

“Pasar properti diperkirakan terus tumbuh tahun ini. Kami memperkirakan permintaan dari ekspansi korporasi akan mendukung sektor perkantoran dan industri/logistik, sementara pergeseran gaya hidup perkotaan akan mendorong sektor ritel,” ujar Angela Wibawa.

Dia menambahkan bahwa pertumbuhan pariwisata (yaitu kedatangan pengunjung) akan membantu meningkatkan tingkat okupansi hotel di Jakarta.

Terkait bisnis perkantoran di Jakarta, Judy Sinurat, co-heads of office services CBRE Advisory Indonesia, menyatakan, properti di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta terus mengalami peningkatan penyerapan, didukung oleh perpindahan kantor dan perluasan penyewa ke gedung-gedung berkualitas lebih tinggi.

Baca juga: CBRE: Arus Investasi Mengkatalisasi Sektor Properti

Akibatnya, kata dia, tingkat okupansi di kawasan CBD Jakarta mencapai sekitar 76 persen pada akhir 2025.

Untuk wilayah non-CBD Jakarta, kata Albert Dwiyanto, co-heads of office services CBRE Advisory Indonesia, juga mengalami peningkatan ringan, dengan tingkat okupansi naik menjadi sekitar 74 persen, didorong oleh permintaan yang stabil dari penyewa yang mencari lokasi strategis.

Pos terkait