Jakarta, landbank.co.id – Harga emas spot global atau XAU/USD diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren bullish pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, seiring melemahnya Dolar AS dan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Pada sesi Asia, XAU/USD tercatat bergerak menguat dan bertahan di area sekitar USD 4.615 per troy ounce, atau naik sekitar 0,65 persen. Penguatan ini terjadi meskipun pasar masih mencermati dinamika data inflasi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Dari sisi teknikal, analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai struktur pergerakan emas saat ini berada dalam fase yang sangat solid. Menurutnya, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren naik emas semakin matang.
“Pergerakan harga emas masih sangat sehat. Harga mampu bertahan di atas area rata-rata pergerakan penting, yang menandakan dominasi buyer masih kuat di pasar,” ujar Andy Nugraha.
Ia menambahkan, selama momentum bullish dapat dipertahankan, harga emas berpeluang melanjutkan reli menuju area USD 4.650 sebagai target kenaikan terdekat secara teknikal.
Meski demikian, Andy juga mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mewaspadai potensi koreksi jangka pendek, mengingat harga emas saat ini berada tidak jauh dari level tertingginya.
“Jika terjadi tekanan jual, maka area USD 4.565 berpotensi menjadi support utama yang dapat menahan penurunan lanjutan,” jelasnya.
Dari sisi fundamental, Andy menyoroti bahwa dorongan utama penguatan emas saat ini datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian pasar setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras terkait situasi di kawasan tersebut.
“Langkah Amerika Serikat memindahkan personel militer dan membatalkan sejumlah pertemuan diplomatik menambah kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik. Dalam kondisi seperti ini, emas kembali berperan sebagai aset safe haven yang diburu investor,” ungkap Andy.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi isu terkait independensi Federal Reserve. Ketua The Fed Jerome Powell mengonfirmasi bahwa bank sentral menerima surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS terkait proyek renovasi besar kantor pusat The Fed. Situasi ini memicu spekulasi meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral, yang berpotensi menambah ketidakpastian kebijakan moneter.





