Situasi geopolitik global juga dipengaruhi oleh dinamika keamanan di kawasan Arktik serta dampak lanjutan dari ketegangan politik di Amerika Latin.
Kondisi tersebut menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi di pasar internasional, sehingga mendorong investor memperbesar alokasi dana ke emas sebagai aset aman.
Dari sisi ekonomi, laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini.
Data Nonfarm Payrolls menunjukkan penambahan sekitar 50.000 pekerjaan pada Desember, lebih rendah dari perkiraan, meskipun tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen.
Kombinasi data tersebut memberi sinyal perlambatan momentum pertumbuhan pasar tenaga kerja, sehingga membuka ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih akomodatif.
Selain itu, suku bunga yang lebih rendah berpotensi melemahkan dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bergerak relatif stabil di kisaran 4,17 persen turut mendukung harga emas bertahan di level tinggi. Dengan latar belakang ini, Andy Nugraha menilai bias pasar terhadap emas masih cenderung positif.
“Selama ketidakpastian geopolitik dan spekulasi pemangkasan suku bunga masih membayangi pasar, emas berpotensi tetap berada dalam fase bullish, meskipun volatilitas jangka pendek bisa meningkat,” pungkasnya.
(*)





