Emas Bangkit dari Koreksi, Analis Prediksi Target US$4.466

Setelah sempat terkoreksi, harga emas dunia kembali menguat. Analis memproyeksikan XAU/USD berpeluang menuju area US$4.466./Foto: Istockphoto.

Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia (XAU/USD) diprediksi bergerak menguat pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026.

Pada perdagangan akhir pekan Jumat, 31 Januari 2025, harga emas mencatat kenaikan signifikan di tengah kondisi pasar yang relatif sepi akibat libur Tahun Baru di Jepang dan Tiongkok.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pantauan landbank.co.id dari data perdagangan, XAU/USD menguat sekitar 1,75 persen dan bergerak mendekati area US$4.400, setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga ke kisaran US$4.274.

Kenaikan ini mencerminkan kembali meningkatnya minat beli investor, khususnya terhadap aset lindung nilai (safe haven).

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai struktur pergerakan harga emas saat ini menunjukkan sinyal teknikal yang semakin konstruktif.

Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan arah indikator Moving Average, mengindikasikan bahwa tren bullish XAU/USD mulai kembali menguat.

“Selama tekanan beli masih terjaga, peluang kenaikan harga emas dalam jangka pendek tetap terbuka,” ujar Andy dalam keterangan resminya yang diperoleh landbank.co.id Senin, 5 Januari 2026.

Ia memproyeksikan, apabila momentum penguatan berlanjut, harga emas berpotensi menguji area US$4.466 sebagai target terdekat.

Meski demikian, jika terjadi koreksi lanjutan akibat aksi ambil untung, maka area US$4.355 diperkirakan menjadi zona support terdekat yang perlu dicermati pelaku pasar.

Dari sisi fundamental, sentimen positif terhadap emas semakin diperkuat oleh memburuknya situasi geopolitik global. Pada awal sesi Asia, Senin, harga emas tercatat bergerak naik hingga ke kisaran US$4.370, dipicu meningkatnya ketidakpastian setelah Amerika Serikat dilaporkan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Langkah tersebut, yang disebut dilakukan tanpa persetujuan Kongres AS, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin. Pernyataan keras pemerintahan Presiden AS Donald Trump, termasuk rencana peningkatan tekanan terhadap Venezuela, turut memperburuk sentimen risiko global.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyatakan bahwa Washington akan memanfaatkan pengaruhnya terhadap sektor minyak Venezuela untuk mendorong perubahan politik. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan mendorong aliran dana ke aset aman seperti emas.

Selain faktor geopolitik, Andy menuturkan, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama pasar.

“Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang pemangkasan suku bunga, seiring tren inflasi yang terus melandai,” terangnya.

Lebih lanjut Andy menjelaskan, meski terdapat perbedaan pandangan mengenai waktu dan besaran penurunan suku bunga, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar tetap menjadi faktor pendukung harga emas.

“Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan jangka pendek pada harga emas,” pungkas Andy.

(*)

Pos terkait