“Segmen menengah ke bawah juga relatif rentan karena sangat sensitif terhadap kenaikan bunga KPR dan inflasi kebutuhan pokok,” terang Ferry.
Sementara itu, tambahnya, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian (end-user driven) relatif lebih resilien karena permintaannya berbasis kebutuhan dasar, bukan spekulasi.
Kawasan industri berbasis aktivitas manufaktur riil juga cenderung lebih stabil, terutama jika didukung investasi jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi kondisi permintaan global.
Skenario yang Perlu Diantisipasi
Ferry memiliki beberapa skenario yang perlu diantisipasi, yakni pertama, dalam skenario dasar (base case), selama konflik tetap terbatas dan tidak memicu lonjakan harga minyak ekstrem, dampaknya terhadap pasar properti Indonesia kemungkinan bersifat terbatas dan sementara.
Baca juga: Rumah Tapak Pinggiran Jakarta Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Ini Alasannya
Kedua, dalam skenario negatif (bear case), apabila konflik meluas dan memicu krisis energi global, inflasi dapat meningkat signifikan, suku bunga tetap tinggi lebih lama, dan pasar properti mengalami perlambatan lebih dalam.
Ketiga, sebaliknya, dalam skenario positif (bull case), jika tensi geopolitik mereda dalam waktu relatif singkat, sentimen pasar akan pulih dan aktivitas properti kembali bergerak secara normal dalam beberapa kuartal.
Langkah Bijak bagi Konsumen dan Investor
Bagi end-user dengan kebutuhan riil dan likuiditas memadai, keputusan membeli rumah tetap dapat dipertimbangkan, terutama jika tersedia promo menarik atau skema bunga tetap yang kompetitif.
Bagi investor, fokus sebaiknya diarahkan pada lokasi strategis atau premium dengan fundamental kuat. Penggunaan leverage perlu dijaga secara sehat, dan likuiditas harus disiapkan sebagai penyangga apabila terjadi perlambatan pasar. Properti bukan aset likuid, sehingga kemampuan bertahan dalam periode transaksi yang melambat menjadi kunci.
Baca juga: Bisnis Rumah Tapak Jabodetabek Terus Berkembang
“Konflik Iran–AS/Israel bukanlah faktor langsung yang menentukan arah pasar properti Indonesia. Namun, ia berpotensi menjadi katalis eksternal melalui jalur harga energi, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga,” simpul Ferry.
Dia menambahkan, selama konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya terhadap sektor properti Indonesia diperkirakan moderat dan temporer.
Segmen berbasis kebutuhan (end-user driven) akan relatif lebih resilien, sementara segmen investor-driven dan struktur pembiayaan yang agresif memerlukan kewaspadaan lebih tinggi.
Baca juga: Radar Colliers Menangkap Tren Permintaan Gedung Hijau
(*)





