Dampak Perang Iran Vs AS-Israel Terhadap Bisnis Properti

Dampak perang Iran melawan AS-Israel bersifat tidak langsung terhadap bisnis properti, melalui beberapa jalur transmisi ekonomi/foto: landbank.co.id

Jakarta, landbank.co.id– Di tengah perang Iran melawan gempuran Amerika Serikat (AS) dan Israel, para pelaku bisnis properti disarankan mencermati sejumlah dampak tidak langsung terhadap sektor properti.

Di sisi lain, menurut konsultan properti Colliers Indonesia, para konsumen properti juga perlu mencermati perang Iran menghadapi AS-Israel.

Bacaan Lainnya

Lantas, seperti apa dampak perang Iran menghadapi serangan AS-Israel terhadap bisnis properti di Indonesia serta bagaimana menyikapinya?

“Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel kembali meningkatkan risiko geopolitik global. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, termasuk dampaknya terhadap sektor properti Indonesia,” papar Ferry Salanto, head of Research Services Colliers Indonesia, dikutip Kamis 5 Maret 2026.

Dia menambahkan, secara langsung, konflik di Timur Tengah tidak serta-merta menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia.

Baca juga: 2026, Kelas Menengah Disediakan PPN DTP Properti Rp3,4 Triliun

“Namun, sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang. Karena itu, dampaknya lebih bersifat tidak langsung, melalui beberapa jalur transmisi ekonomi,” urai Ferry.

Menurut Ferry, terdapat empat mekanisme utama yang perlu dicermati, yakni pertama, Harga Minyak dan Inflasi.

Eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama jika mengganggu jalur distribusi energi global. Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi sektor properti, suku bunga merupakan variabel kunci karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan kredit pemilikan rumah (KPR).

“Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli,” tegas Ferry.

Baca juga: Realisasi Investasi Sektor Properti Sentuh Rp681,7 Triliun

Dia menjelaskan, mekanisme yang kedua adalah terkait dengan Nilai Tukar Rupiah.

Ketidakpastian global sering memicu aliran dana keluar (capital outflow) menuju aset safe haven (misal: emas, dolar Amerika Serikat dan obligasi) sehingga berpotensi melemahkan rupiah. Pelemahan kurs meningkatkan biaya material impor seperti elevator, façade system, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech.

Pos terkait