Terkait proyek rumah tapak, sebelumnya, surat manajemen DADA kepada Bursa Efek Indonesia, 19 November 2025, menyebutkan bahwa Perseroan memiliki lahan seluas 17.573 meter persegi di Kota Depok, Jawa Barat dan seluas 42.816 meter persegi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Di atas kedua lahan tersebut emiten properti yang melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2018 itu berencana mengembangkan proyek rumah tapak.
“Hunian tapak juga menunjukkan ketahanan, didukung pengembangan township dan akses tol, dengan harga lahan naik 3 persen ke Rp13,2 juta/m² pada 2026. Proyek dekat MRT, LRT, dan KRL mencatat kinerja penjualan lebih baik,” dilansir riset Cushman & Wakefield, baru-baru ini.
Insentif PPN DTP
Optimisme terhadap sektor rumah tapak, jelas manajemen DADA, seiring dengan hadirnya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen.
Baca juga: Nilai Penjualan Rumah di Jabodetabek Banten Rp9,18 Triliun
PPN DTP 100 persen yang diperpanjang hingga akhir 2027 dinilai memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk membeli hunian tanpa beban pajak langsung, sekaligus memperkuat optimisme terhadap pertumbuhan sektor residensial pada 2026.
Terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Pemerintah memperpanjang pemberian insentif PPN DTP bagi sektor properti.
“Untuk menjaga daya beli kelas menengah dan mendukung sektor properti yg multiplier effect-nya besar disediakan PPN DTP 100 persen untuk rumah hingga Rp5 miliar bebas PPN, untuk Rp2 miliar pertama,” ujar Menkeu Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Selasa, 14 Oktober 2025.
Sementara itu, sepanjang sepekan, yakni rentang tanggal 5 hingga 9 Januari 2026, saham DADA dibuka dengan harga Rp50 dan ditutup pada posisi Rp58 di Bursa Efek Indonesia.
Baca juga: Apple 3 Condovilla Jadi Patokan Pengembangan Properti DADA
Manajemen Diamond Citra Propertindo menilai bahwa pergerakan saham mencerminkan sinyal awal bahwa pasar mulai merespons langkah ekspansi berbasis fundamental.
Lewat aksi korporasi yang jelas dan strategi bisnis yang terukur, pengembang itu mengaku memasuki fase baru pengembangan usaha properti yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan.
(*)





