“Minat beli belum ramai, menunggu waktu dan sentimen membaik,” dilansir riset Colliers Indonesia.
Pasar menunggu respons positif pasar gedung jual. Harga jual diperkirakan tumbuh berkisar 1 persen hingga 2 persen per tahun dalam rentang tahun 2026-2028.
Area luar CBD Jakarta makin dilirik, berkat harga yang lebih masuk akal, gedung lebih baru dan akses transportasi yang makin baik.
Pasokan Baru
Sementara itu, tahun 2025, stok ruang perkantoran di Jakarta mencapai seluas 11,3 juta meter persegi (m2) yang tersebar di CBD Jakarta 7,4 juta m2 dan di luar CBD Jakarta seluas 3,9 juta m2.
Baca juga: Begini Tingkat Hunian Gedung Perkantoran di Jalur MRT Jakarta
Mengutip riset Colliers Indonesia, CBD Jakarta tidak mendapat pasokan baru sepanjang 2024 hingga 2026.
Tahun lalu, terdapat pasokan baru di luar CBD Jakarta, yakni dari proyek menara perkantoran Menara Jakarta.
“Proyeksi tambahan diperkirakan mencapai 200.000 meter persegi hingga tahun 2028, sebanyak 52 persen berada di luar CBD Jakarta,” dikutip dari riset Colliers Indonesia.
Di sisi lain, bisnis gedung perkantoran di Surabaya, Jawa Timur belum diwarnai pasokan baru. Tidak ada pasok baru, bahkan hingga 2028, namun tingkat hunian tumbuh moderat. Permintaan ruang yang masih relatif kecil dan persaingan dengan rumah kantor (rukan) atau rumah toko (ruko) masih menjadi tantangan klasik bagi pengembang properti perkantoran.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, di Surabaya, kebanyakan local company lebih suka di ruko karena praktis ketimbang formal di Gedung perkantoran. Gedung kantor di Surabaya umumnya untuk perusahaan yang sudah punya branding kuat.
“Local company lebih banyak memilih rumah atau ruko. Ruko bisa jadi alternatif perkantoran di Surabaya,” tutur Ferry dalam paparan virtual dipantau dari Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.
Baca juga: Gedung Premium Jadi Pendorong Pasar Perkantoran
Harga sewa di Surabaya perlahan terkoreksi, dengan pertumbuhan berkisar 2 persen hingga 2,5 persen per tahun selama periode 2026-2028.
(*)





